
Toto Arifin, Petani muda dari Desa Ngargogondo, Magelang, Jawa Tengah | Sumber Foto:Intani
AGRONET -- Petani muda yang berasal dari Desa Ngargogondo, Magelang, Jawa Tengah bernaman Toto Arifin tergabung dalam Kelompok Tani Ben Dadi Mulyo. Toto mengawal Desa Ngargogondo yang terletak di belakang Candi Borobudur dan menjadi lokasi pengelolaan lahan cabai seluas 1 hektare oleh kelompok tani tersebut. Saat ini, 5.000 m?2; lahan sudah dikelola dan akan bertambah 5.000 m?2; lagi. Yang menarik, lahan ini dikelola oleh generasi muda milenial contoh regenerasi petani di tengah tantangan menyusutnya petani muda di sektor pertanian.
Berdasarkan kisah Pak Toto, bertani organik di desa tersebut memang “ramah lingkungan dan ramah kantong”. Sebelum beralih ke organik, biaya pupuk untuk tanaman cabai bisa mencapai Rp8.000–Rp10.000 per tanaman, kini hanya sekitar Rp3.000 saja. Penghematan biaya ini diperoleh karena petani membuat pupuk organik cair (POC) sendiri dari limbah sekitar seperti limbah pasar, kulit nanas, sayuran busuk, dan sisa buah, yang difermentasi selama 1–3 bulan. Pemupukan rutin dilakukan sejak tanaman berusia satu minggu dan diulang setiap 7–10 hari.
Hasil panen organik menunjukkan pertumbuhan tanaman yang lebih baik, seperti timun yang bisa menghasilkan hingga 4 kg per pohon dan cabai rata-rata 9 ons per pohon, lebih tinggi dibandingkan dengan metode anorganik yang biasanya hanya mencapai 5 ons per pohon. Masa panen pun lebih panjang dan hasil panen padi pun lebih tahan terhadap serangan hama tikus dibandingkan lahan anorganik di sekitar.
Bahan baku POC sangat melimpah dan sebagian besar gratis, berasal dari limbah pasar dan rumah tangga seperti seresah bambu, keong, dan bekicot. Pupuk ini dapat disimpan hingga 1–1,5 tahun dan cukup ditambahkan tetes tebu sebelum digunakan untuk mengaktifkan bakteri. Biaya pembuatan 100 liter POC bahkan tidak sampai Rp200.000, sangat jauh lebih murah dibandingkan membeli produk ZPT pabrikan.
Penggunaan POC tidak hanya meningkatkan kesuburan tanah secara signifikan dengan membuat tanah menjadi gembur dan mudah dicangkul, tetapi juga mengandung bakteri dan jamur entomopatogen yang menekan serangan jamur dan bakteri patogen, sehingga tanaman menjadi lebih tahan terhadap penyakit. Penyemprotan POC biasanya dilakukan pada bedengan tanah sebelum tanam agar mikroorganisme bermanfaat dapat tumbuh terlebih dulu.
Dampak positif bertani organik dengan POC telah dirasakan selama dua tahun terakhir di Ngargogondo. Tanah yang sebelumnya keras karena penggunaan pupuk kimia berlebihan, sekarang menjadi lebih subur dan mudah diolah. Penggunaan POC juga mampu menghemat biaya pembelian pupuk dan pestisida anorganik, sehingga petani dapat menekan biaya produksi hingga 50?hkan lebih.
Sumber :
Insan Tani dan Nelayan Indonesia
Sabtu, 24 Januari 2026
Sabtu, 17 Januari 2026
Selasa, 13 Januari 2026
Sabtu, 24 Januari 2026
Kamis, 22 Januari 2026
Minggu, 18 Januari 2026
Kamis, 15 Januari 2026
Selasa, 13 Januari 2026
Jumat, 23 Januari 2026
Jumat, 23 Januari 2026
Rabu, 21 Januari 2026










