Meriahkan Kemerdekaan Indonesia

Intani – Pegadaian Melatih 80 Petani Organik The Gade Integrated Farming

Jumat, 08 Agustus 2025, 19:41 WIB

Intani bersama Divisi Enviromental, Social, Governance (ESG) PT Pegadaian mengembangkan Kampung Swasembada Pangan Lestari (KSPL) | Sumber Foto:Intani

AGRONET -- Perkumpulan Insan Tani dan Nelayan Indonesia (Intani) bersama PT Pegadaian menyelengarakan pelatihan pertanian terpadu, rendah karbon, dan ramah lingkungan di Kabupaten Cilacap dan Kabupaten Banyumas Jawa Tengah.

Pelatihan pertanian organik yang diselenggarakan pada tanggal 5 dan 7 Agustus 2025 ini diikuti oleh 12 kelompok tani.

Sebanyak 30 peserta dari 4 kelompok tani mengikuti pelatihan di Balai Desa Kalijaran Kecamatan Maos Cilacap, Selasa 5 Agustus 2025. Dan 34 petani dari 8 kelompok tani mengikui pelatihan di Desa Rempoah Kecamatan Baturraden Kabupaten Banyumas, Kamis 7 Agustus 2025. Pelatihan juga dihadiri sejumlah aparat desa dan penyuluh pertanian, sehingga total yang hadir dalam pelatihan mencapai 80 orang.

“Pelatihan pertanian terpadu, rendah karbon, dan ramah lingkungan di bulan Agustus ini juga turut memeriahkan peringatan kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-80,”ungkap Ketua Umum Perkumpulan Insan Tani dan Nelayan Indonesia (Intani) Guntur Subagja Mahardika.

Guntur mengapresiasi pemerintahan yang dipimpin Presiden Prabowo yang berpihak kepada petani dan menjadikan swasembada pangan menjadi prioritas pembangunan nasional. “Saat ini petani bahagia dengan berbagai kebijakan Bapak Prabowo, diantaranya penetapanan harga pokok pembelian pemerintah (HPP) gabah kering panen Rp. 6.500,- dan HPP jagung Rp 5.500 per kilogram, memberikan kepastian harga saat petani panen serta mndapat keuntungan,”tutur Guntur.

Dalam rangka mendukung program swasembada pangan nasional, Intani bersama Divisi Enviromental, Social, Governance (ESG) PT Pegadaian mengembangkan Kampung Swasembada Pangan Lestari (KSPL). Program ini sebagai tindaklanjut dari progran The Gade Integrated Farming (TGIF) yang berjalan sejak tahun 2023 dengan mengusung konsep pertanian terpadu, rendah karbon, dan ramah lingkungan. Saat ini sudah 124 kelompok tani mendapat pelatihan dan 42 orang diantaranya sudah mengikuti bimbingan teknis dan uji kompetensi fasilitator pertanian organik bersertifikar Badan Nasional Standarisasi Profesi (BNSP).

Perwakilan Divisi ESG PT Pegadaian Rudianto menyampaikan progran ini sebagai kepedulian Pegadaian kepada para petani untuk meningkatkan produksi dan kesejahteraan petani dengan pertanian organik yang ramah lingkungan. “Pegadaian bersama Intani tidak hanya memberikan pelatihan terus ditinggalkan, tapi juga melakukan pendampingan dan percontohan pertanian terpadu di lokasi gabungan kelompok tani,”jelas Rudianto.

Tokoh masyarakat yang menjadi penasehat gabungan kelompok tani di Desa Kalijaran Cilacap Budiyanto bersama Kepala Desa Kalijaran Sudarsono mengapresiasi para petani yang penuh semangat mengikuti pelatihan pertanian terpadu yang didukung oleh Intani dan Pegadaian. Ia berharap segera diimplementasikan para petani dan didampingi Intani hingga petani mandiri.

Kepala Desa Rempoah Kecamatan Baturraden Kabupaten Banyumas Sugeng Pujiharto dan penasehat Gapoktan Dewi Sri Soegeng Suratno menyatakan Desa Rempoah memiliki lahan pertanian luas dan berkomitmen untuk mengembangkan pertanian organik dan ramah lingkungan. Mereka menyemangati para pertani untuk mengaplikasikan pertanian terpadu dan organik.

Ketua Umum Intani menjelaskan, setidaknya ada tiga manfaat besar bagi petani ketika meberapkan pertanian terpadu dan ramah lingkungan.

Pertama, mengurangi limbah yang merusak lingkungan (zero waste), kedua efisiensi sumberdaya dan biaya, dan ketiga meningkatkan keuntungan petani.

Ia menjelaskan, pertanian organik perlu dikembangkan untuk memulihkan lahan pertanian yang rusak akibat penggunakan pupuk sintetis dan obat-obatan yang berlebihan. Organisasi Pangan Dunia (FAO) dalam publikasinya lalu sekitar 69 persen lahan pertanian di Indonesia kritis. “Mari kita kembalikan tanah pertanian menjadi subur kembali dan petani sejahtera,”jelas Guntur.

 

Sumber :

Insan Tani dan Nelayan Indonesia