IPB Peringati Hari Lahan Basah

Minggu, 04 Maret 2018, 21:27 WIB

Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata (KSHE) Fakultas Kehutanan (Fahutan) Institut Pertanian Bogor (IPB) mengadakan sarasehan dalam rangka memperingati Hari Lahan Basah yang jatuh pada tanggal 2 Februari. | Sumber Foto:Humas IPB

 AGRONET - Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata (KSHE) Fakultas Kehutanan (Fahutan) Institut Pertanian Bogor (IPB) mengadakan sarasehan dalam rangka memperingati Hari Lahan Basah yang jatuh pada tanggal 2 Februari. Sarasehan yang mengusung tema ”Konservasi Ekosistem Mangrove sebagai Sistem Penyangga Kehidupan” ini digelar di Fahutan IPB, kampus Dramaga, Bogor.
 
Ketua Departemen KSHE Fahutan IPB, Dr. Nyoto Santoso, menjelaskan tujuan diselenggarakan sarasehan ini adalah untuk ;
- mengkaji perkembangan terkini kebijakan pengelolaan ekosistem mangrove di Indonesia,
- mengkaji berbagai permasalahan pengelolaan ekosistem mangrove,
- menggali pemikiran-pemikiran pengelolaan ekosistem mangrove berkelanjutan,
- merumuskan langkah-langkah konservasi ekosistem mangrove sebagai sistem penyangga kehidupan di Indonesia.

”Harapannya dapat mengonsolidasikan para pemerhati mangrove yang terdiri dari pemerintah, perguruan tinggi, peneliti, lembaga swadaya masyarakat dan swasta. Sehingga dalam pengelolaan mangrove tidak kehilangan arah. IPB sebagai perguran tinggi ingin memberikan kontribusi dan arah dalam pengelolaan mangrove yang baik dan berhasil,” ujar Nyoto Santoso.

Sementara itu Dekan Fahutan IPB, Dr. Rinekso Soekmadi, menyampaikan bahwa ekosistem mangrove bersifat unik dan memiliki berbagai fungsi dan manfaat. Tapi saat ini belum dirasakan fungsi dan manfaatnya secara maksimal.

”Ekosistem mangrove sebagai ekosistem peralihan antara darat dan laut telah diketahui mempunyai berbagai fungsi, yaitu sebagai penghasil bahan organik, tempat berlindung berbagai jenis binatang, tempat memijah berbagai jenis ikan dan udang, serta sebagai pelindung pantai,” tambah Rinekso Soekmadi.

Mengingat kelestarian hutan bakau atau pengelolaan mangrove memiliki arti yang sangat penting bagi kelangsungan hidup ekosistem kelautan, maka sudah selayaknya apabila pemerintah daerah, perguruan tinggi dan swasta harus memperhatikan keselamatan hutan-hutan bakau yang ada di wilayah Indonesia.
Rektor IPB, Dr. Arif Satria, dalam sambutannya menyampaikan sarasehan ini merupakan langkah yang baik dalam pengelolaan ekosistem mangrove sebagai sistem penyangga kehidupan. Konservasi pengelolaan mangrove ada dua aspek, yaitu aspek teknis dalam pengelolaan dan aspek government.

Dalam aspek government, pihak-pihak yang terkait dalam pengelolaan mangrove yang melibatkan pemerintah daerah dan lembaga-lembaga lain. Koordinasi antar lembaga yang terkait dengan pengelolaan mangrove adalah mendesak untuk dilakukan saat ini. 

Sedangkan aspek teknis, jelas rektor, yaitu pengelolaan ekosistem mangrove termasuk merehabilitasi hutan mangrove yang rusak, membangun, dan memperkuat kerangka kelembagaan beserta Iptek yang kondusif bagi penyelenggaraan pengelolaan mangrove secara baik.

Rektor berharap, ke depannya IPB sebagai perguruan tinggi, terutama Departemen KSHE Fahutan IPB mempunyai etalase selain yang sudah ada di Gunung Walat. ”IPB harus mempunyai etalase  pengelolaan ekosistem mangrove dengan berbasis ekowisata yang bagus dan berhasil, bisa di Jakarta (Ancol),” ujar rektor. 

Sarasehan ini menghadirkan pakar konservasi lingkungan dan mangrove, di antaranya Deputi Bidang Koordinasi Sumberdaya Alam dan Jasa Kemenko Kemaritiman, Ir. Agung Kuswandono; Guru Besar Departemen KSHE Fahutan IPB, Prof. Dr. Hadi S. Alikodra; Deputi Bidang Pangan dan Pertanian, Komenko Perekonomian, Ir. Musdhalifah Machmud, MT; Guru Besar Departemen Silvikultur Fahutan IPB, Prof. Dr. Cecep Kusmana; Kasubdit Reboisasi Direktorat Konsevasi Tanah dan Air, Dirjen Pengendalian Daerah Aliran Sungan dan Hutan Lindung (PDASHL) KLHK, Ir. Joko Pramono, M.Sc. (Awl/Humas IPB/555)