"BALANGSAK"

Minggu, 01 Februari 2026, 15:12 WIB

ENTANG SASTRAATMADJA | Sumber Foto:Dok. PRIBADI

AGRONET -- Balangsak adalah kata dari bahasa Sunda yang berarti miskin, sengsara, atau susah, sering digunakan dalam bahasa gaul Indonesia untuk menggambarkan kondisi kekurangan atau keprihatinan, dan juga nama untuk jenis makanan tradisional seperti kerupuk atau camilan asin rebon yang disangrai tanpa minyak (sangrai balangsak) karena hemat.

Arti dan penggunaan kara balangsak umumnya menggambarkan kondisi miskin/sengsara: Ini adalah arti utamanya, merujuk pada keadaan finansial yang buruk atau kehidupan yang sulit. Kemudian, bahasa gaul. Kata balangsak populer sebagai ungkapan gaul untuk menggambarkan seseorang atau sesuatu yang dalam kondisi memprihatinkan atau tidak beruntung.

Bisa juga dalam kaitannya dengan makanan. Dalam dunia kuliner, "sangrai balangsak" merujuk pada camilan asin rebon yang disangrai tanpa minyak, dianggap "hemat" atau "sederhana" sehingga dinamakan demikian. Namun begitu, secara umum kata balangsak menunjukkan kehidupan seseorang yang jauh dari suasana sejahtera.

Petani hidupnya balangsa ? itu tergantung. Petani bisa hidup balangsak kalau hasil panen gak maksimal karena cuaca atau harga pasar turun. Atau karena keterbatasan akses teknologi dan modal. Bisa jugaharga input produksi mahal, tapi harga jual rendah.

Tapi, banyak juga petani yang sukses dan sejahtera, terutama yang mengadopsi teknologi pertanian modern. Atau terlibat dalam koperasi atau pasar ekspor. Dan yang menerapkan diversifikasi produk pertanian. Jadi, gak semua petani hidup balangsak. Banyak yang sukses dan bangga jadi petani.

Bagi petani gurem dan petani buruh, suasana hidup balangsak sudah menyatu dalam kehidupannya. Harapan untuk merubah nasib, selesau hanya sebatas semangat belaka. Dalam kenyataannya, mereka sangat kesulitan untuk melepaskan diri dari jeratan kemiskinan yang membelenggunya. Mereka tetap terjebak dalam kondisi hidup yang bslangsak.

Akibatnya, sekalipun selama ini banyak pihak yang mengumandangkan agar petani mampu berubah nasib, dalam kenyataannya, harapan tersebut masih susah untuk diwujudkan. Bagi petani gurem dan petani buruh, bebas dari kemiskinan dan kemelaratan, untuk menuju hidup makmur dan sejahtera, tak ubahnya seperti kita ingin mengecat langit. Sesuatu yang susah untuk diraih.

Bagi petani gurem dan petani buruh, dalam tekanan ekonomi bangsa yang kurang berpihak ke mereka, hidup hanya sekedar untuk menyambung nyawa dari hari ke harinya. Rendahnya tingkat pendidikan dan lemahnya derajat kesehatan, membuat mereka tetap terjerat dalam lingkaran setan kemiskinan yang tak berujung pangkal.

Pemerintah sendiri, tentu tidak tinggal diam menyijapi masalah seperti ini. Banyak kebijakan, program dan kegiatan yang berupaya untuk meningkatkan penghasilan mereka. Sayangnya, seabreg kemauan politik untuk meningkatkan harkat dan martabat petani berlahan sempit dan tuna tanah ini, ternyata belum dapat dibuktikan dalam kehidupan nyata.

Dibandingkan dengan petani berlahan luas yang kepemilikan lahan sawahnya diatas 2 hektar, para petani padi berlahan sempit, wajar bila kondisi kehidupannya tampak memprihatinkan. Hanya memiliki lahan pertanian sekitar 0,25 hektar, para petani berlahan sempit, jelas bakal kesulitan meningkatkan pendapatan atau penghasilannya.

Fenomena "balangsak"nya petani berlahan sempit, sebetulnya telah dipahami sejak lama oleh para penentu kebijakan di sektor pertanian. Terlebih oleh Presiden Prabowo yang memiliki kenangan manis selama dua periode memimpin organisasi petani sekelas Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI). Presiden tahu persis soal derita petani padi berlahan sempit.

Berdasarkan pengamatan yang menyeluruh, petani gurem dan buruh tani susah berubah nasib karena beberapa alasan, diantaranya karena keterbatasan modal. Sulit akses pinjaman atau investasi untuk meningkatkan produksi. Kemudian, keterampilan terbatas. Kurangnya akses pendidikan dan pelatihan untuk meningkatkan kemampuan.

Lalu, etergantungan pada musim*: Hasil panen tergantung cuaca, jadi pendapatan gak stabil. Bisa juga karena
harga jual yang rendah*: Terjebak dalam rantai pasok yang eksploitatif, harga jual gak sesuai dengan usaha yang digarapnya. Atau karena struktur agraris yang kurang mendukung. Artinya Sistem Pertanian yang ada, kurang mendukung petani kecil.

Nasib petani gurem dan buruh tani di Indonesia masih menjadi perhatian serius. Sekitar 40,69 juta orang bekerja di sektor pertanian, namun banyak di antaranya masih hidup dalam kemiskinan. Petani gurem, yang memiliki lahan di bawah 0,5 hektar, bahkan mencapai 60?ri total petani di Indonesia.

Beberapa tantangan yang dihadapi petani gurem dan buruh tani adalah:

  • Keterbatasan lahan. Lahan yang sempit membuat hasil panen tidak maksimal.
  • Keterbatasan modal. Sulit akses pinjaman untuk meningkatkan produksi.
  • Ketergantungan pada musim. Hasil panen tergantung cuaca, jadi pendapatan gak stabil.
  • Harga jual yang rendah. Terjebak dalam rantai pasok yang eksploitatif.

Pemerintah telah meluncurkan program untuk meningkatkan kesejahteraan petani, seperti intensifikasi pertanian, ekstensifikasi, dan pendampingan. Namun, hasilnya belum signifikan.

Untuk ke depannya, diharapkan pemerintah dapat:

  • Meningkatkan akses modal. Bantuan pinjaman dan investasi untuk meningkatkan produksi.
  • Meningkatkan keterampilan. Pelatihan dan pendidikan untuk meningkatkan kemampuan petani.
  • Meningkatkan harga jual. Membangun pasar yang adil untuk petani.

Dengan dukungan yang tepat, petani gurem dan buruh tani dapat meningkatkan kesejahteraan dan menjadi pahlawan pangan Indonesia. Petani berlahan sempit, tentu akan dapat bebas dari suasana hidup yang balangsak.

Sumber:
ENTANG SASTRAATMADJA - ANGGOTA DEWAN PAKAR DPN HKTIb