
ENTANG SASTRAATMADJA | Sumber Foto:Dok. PRIBADI
AGRONET -- Betul, swasembada beras sudah dapat kita wujudkan. Tepatnya sejak 31 Desember 2025. Pengumumannya sendiri, secara resmi disampaikan langsung oleh Presiden Prabowo. Tidak oleh Menteri Koordinator bidang Pangan atau oleh Menteri Pertanian/Kepala Badan Pangan Nasional. Ini menandakan pencapaian swasembada beras merupakan kerja keras dan kerja cerdas segenap warga bangsa.
Bagi Pemerintahan Presiden Prabowo beserta Kabinet Merah Putih yang dibentuknya, pencapaian swasembada beras merupakan langkah awal ke arah pencapaian swasembada pangan, yang dijadikan salah satu kebijakan prioritas selama 5 tahun ke depan dalam membangun bangsa dan negara. Ini penting, karena tanpa swasembada beras, tidak mungkin akan ada swasembada pangan.
Swasembada beras yang diraih kali ini, jelas harus berbeda dengan capaian swasembada-swasembada beras sebelumnya. Artinya, kalau di masa lalu, sebut saja swasembada beras 1984, capaian swasembada berasnya cenderung bersifat "on trend" (kadang-kadang), maka swasembada beras 2025, mestilah swasembada beras berkelanjutan.
Indikator swasembada beras berkelanjutan bisa meliputi beberapa aspek, seperti produktivitas padi yang tinggi dan stabil; ketersediaan lahan pertanian yang cukup dan terkelola dengan baik; akses terhadap teknologi dan infrastruktur pertanian yang memadai; ketersediaan air irigasi yang cukup dan terkelola dengan baik; harga gabah yang kompetitif dan menguntungkan petani.
Selain itu, istem distribusi dan pemasaran yang efisien;
kualitas beras yang memenuhi standar kesehatan dan keamanan pangan; keseimbangan antara produksi dan konsumsi beras domestik; pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan dan ramah lingkungan dan dukungan kebijakan pemerintah yang konsisten dan efektif.
Hanya, kalau mau yang lebih sederhana, bisa juga dilihat dari :
Pertama, produksi beras dalam negeri yang mencukupi kebutuhan nasional.
Kedua, stok beras yang cukup untuk memenuhi kebutuhan beberapa bulan ke depan.
Ketiga, harga beras yang stabil dan terjangkau bagi masyarakat.
Catatan pentingnya adalah kalau sudah berhasil swasembada beras, bagaimana dengan swasembada komoditas pangan lainnya ? Apakah swasembada beras akan dianggap sudah selesai untuk diprioritaskan ? Jawabannya tdgas : tidak ! Swasembada beras memang penting, tapi swasembada pangan itu lebih luas, mencakup berbagai jenis makanan lain seperti sayuran, buah, daging, dan lain-lain.
Jadi, fokus ke swasembada beras saja tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan pangan masyarakat. Kita perlu strategi yang lebih komprehensif untuk mencapai swasembada pangan yang sebenarnya. Presiden Prabowo sendiri telah memberi sinyal, setelah tercapai swasembada beras, maka dalam tempo yang segera, kita ingin mewujudkan swasembada jagung.
Swasembada beras berkelanjutan memang cukup strategis, tapi jangan lupa bahwa pangan itu beragam. Kalau kita fokus ke beras saja, kita mungkin lupa tentang kebutuhan pangan lain seperti sayuran, buah, dan protein hewani. Swasembada pangan berkelanjutan harus mencakup semua aspek itu, biar masyarakat bisa dapatkan makanan yang bergizi dan seimbang.
Indonesia pernah mencapai swasembada beras pada tahun 1984 dan 2008, tapi keduanya tidak berkelanjutan. Ada beberapa faktor yang menyebabkan hal ini, seperti kurangnya diversifikasi pangan, penurunan kualitas lahan, dan kurangnya investasi dalam infrastruktur pertanian.
Tahun 1984, swasembada beras dicapai karena Revolusi Hijau, tapi kemudian produksi menurun karena penggunaan pupuk kimia berlebihan dan kurangnya perawatan lahan. Tahun 2008, swasembada beras dicapai karena peningkatan produksi, tapi kemudian produksi menurun lagi karena faktor-faktor seperti perubahan iklim dan kurangnya investasi.
Dihadapkan pada kondisi seperti ini, tentu kita harus belajar dari pengalaman diatas dan fokus pada swasembada pangan berkelanjutan yang lebih luas dan inklusif. Kendati begitu, upaya dan langkah mewujudkan swasembada beras berkelanjutan pun wajib hukumnya untuk terus digarap dan diprioritaskan.
Berdasar pada gambaran yang dipaparkan diatas, maka ada berbagai "pe-er" yang penting diselesaikan setelah bangsa ini mampu mewujudkan swasembada beras. Pertama adalah melestarikan swasembada beras yang telah diraig; dan kedua menggarap swasembada-swasembada komoditas pangan lain diluar beras, seperti jagung, daging sapi, kedelai, gula, bawang putih dan lain sebagainya.
Ke dua "pe-er" ini jelas bukan hal yang cukup gampang untuk ditempuh. Apalagi bila kita ingin melakukannya secara bersamaan. Dalam kondisi seperti ini, tentu sangat dibutuhkan adanya strategi dan langkah cerdas dalam menggarapnya. Untuk mencapai swasembada beras lestari dan swasembada komoditas pangan non-beras, beberapa langkah cerdas yang bisa ditempuh antara lain :
Semoga demikian adanya.
Sumber:
ENTANG SASTRAATMADJA - ANGGOTA DEWAN PAKAR DPN HKTI
Senin, 01 Juni 2026
Jumat, 22 Mei 2026
Selasa, 16 Juni 2026
Rabu, 03 Juni 2026
Jumat, 22 Mei 2026
Kamis, 19 Februari 2026
Selasa, 26 Mei 2026
Minggu, 08 Maret 2026
Sabtu, 21 Februari 2026








