EKSPOR BERAS : PELUANG DAN TANTANGAN !

Rabu, 14 Januari 2026, 17:47 WIB

ENTANG SASTRAATMADJA | Sumber Foto:Dok. PRIBADI

AGRONET -- Ekspor beras adalah kegiatan menjual beras dari satu negara ke negara lain. Indonesia adalah salah satu negara penghasil beras terbesar di dunia dan juga merupakan negara pengekspor beras. Ekspor beras dapat membantu meningkatkan pendapatan negara dan petani, serta memenuhi kebutuhan beras di negara-negara lain.

Beberapa negara tujuan ekspor beras Indonesia adalah Malaysia, Filipina, China, Brunei Darussalam, Arab Saudi dan Negara-negara Afrika. Selain itu, ekspor beras juga dapat membantu meningkatkan kualitas beras dan memotivasi petani untuk meningkatkan produksi. Namun, ekspor beras juga memiliki risiko, seperti fluktuasi harga dan perubahan kebijakan perdagangan internasional.

Jika Indonesia akan mengekspor beras, beberapa hal yang perlu dipertimbangkan adalah:

Kualitas beras Indonesia umumnya dinilai baik, dengan beberapa varietas unggulan seperti beras Pandan Wangi. Aromanya yang khas dan tekstur yang pulen membuatnya populer di dalam dan luar negeri. Kemudian, beras Basmati. Beras ini memiliki tekstur yang panjang dan rasa yang khas, cocok untuk hidangan internasional. Lalu, beras nerah. Beras ini kaya akan serat dan nutrisi, membuatnya menjadi pilihan sehat.

Namun, kualitas beras dapat bervariasi tergantung pada faktor-faktor seperti varietas, yakni jenis padi yang digunakan. Selanjutnya, tanah dan iklim. Kondisi tanah dan iklim yang mempengaruhi pertumbuhan padi. Juga pengolahan. Proses pengolahan dan pengemasan sangat mempengaruhi kualitas akhir beras. Kualitas beras untuk ekspor Indonesia umumnya harus memenuhi standar internasional, seperti memenuhi standar ISO. Beras harus memenuhi standar ISO 9001 untuk sistem manajemen kualitas. Lalu, standar HACCP. Beras harus memenuhi standar HACCP untuk keamanan pangan. Dan juga standar GMP. Beras harus diproduksi dengan Good Manufacturing Practice (GMP).

Beberapa kriteria kualitas beras untuk ekspor adalah kadar Air maksimal 14%; Kadar Protein minimal 7%; Kadar Amilosa minimal 20%; Butir Patah maksimal 5?n Biji Merah maksimal 1%. Untuk memenuhi standar ini, produsen beras harus melakukan proses pengolahan yang baik, seperti pengeringan untuk mengurangi kadar air beras. Lalu, penggilingan untuk menghilangkan kulit ari dan lapisan luar beras. Selanjutnya perlu dilakukan penyortiran untuk memisahkan beras berdasarkan ukuran dan kualitas.

Ekspor beras dapat menguntungkan secara ekonomis, tetapi ada beberapa faktor yang perlu dipertimbangkan :
Pertama, Harga Beras Internasional. Harga beras di pasar internasional dapat berfluktuasi, sehingga mempengaruhi keuntungan eksportir.
Kedua, Biaya Produksi. Biaya produksi beras di Indonesia harus lebih rendah daripada harga jual di pasar internasional untuk mendapatkan keuntungan.
Ketiga, Biaya Ekspor. Biaya ekspor, seperti biaya pengangkutan, asuransi, dan pajak, dapat mengurangi keuntungan. Keenpat, Kualitas Beras. Beras dengan kualitas tinggi dapat dijual dengan harga yang lebih tinggi di pasar internasional.

Seiring dengan itu, ekspor beras juga dapat memberikan keuntungan, seperti
peningkatan pendapatan Ekspor beras dapat meningkatkan pendapatan negara dan petani. Kenudian peningkatan kesempatan kerja. Ekspor beras dapat menciptakan kesempatan kerja di sektor pertanian dan industri pengolahan. Selanjutnya, peningkatan kualitas beras. Ekspor beras dapat memotivasi petani dan produsen untuk meningkatkan kualitas beras.

Akhirnya patut dijadikan bahan perenungan, dalam beberapa tahun terakhir, ekspor beras Indonesia mulai menunjukkan perkembangan yang menggembirakan, terutama ke negara-negara di Asia Tenggara. Namun, perlu diingat bahwa ekspor beras juga memiliki risiko, seperti fluktuasi harga dan perubahan kebijakan perdagangan internasional. Begitu !

Sumber:
ENTANG SASTRAATMADJA - ANGGOTA DEWAN PAKAR DPN HKTI