DARI SWASEMBADA BERAS MENUJU SWASEMBADA PANGAN

Kamis, 08 Januari 2026, 06:37 WIB

ENTANG SASTRAATMADJA | Sumber Foto:Dok. PRIBADI

AGRONET -- Teka teki soal swasembada beras 2025, akhirnya terjawab. Ketika berpidato di tengah Peringatan Natal 2025 di awal tahun 2026, Presiden Prabowo dengan suara lantang dan tegas menyatakan per 31 Desember 2025, Indonesia kembali menjadi bangsa yang mampu berswasembada beras lagi. Proklamasi Swasembada Beras, memang tengah dinantikan oleh segenap warga bangsa.

Sekalipun bangsa ini sudah sering meraih swasembada beras, namun pencapaian swasembada beras 2025, benar-benar memiliki nilai tersendiri dalam kehidupsn berbsngsa, bernegara dan bermasysrakat. Swasembada beras kali ini, memang mesti berbeda dengan swasembada-swasembada beras sebelumnya. Lalu, apa yang menjadi faktor pembedanya ?

Hal ini perlu disampaikan, karena kalau kita ingin memberi dukungan penuh terhadap salah satu kebijakan prioritas Pemerintahan Presiden Prabowo, yakni pencapaian swasembada pangan, maka swasembada beras merupakan "penentu utama" tercapainya semangat tersebut. Tanpa terwujud swasembada beras, dapat dipastikan tidak akan pernah ada yang namanya swasembada pangan.

Swasembada beras sendiri, kini sudah tercapai. Pengumuman Presiden Prabowo diawal tahun 2026, sebetulnya sudah sangat jelas. Indonesia per 31 Desember 2025, kembali menjadi negeri yang berswasembada beras. Justru yang menjadi "pe-er" besar berikutnya adalah bagaimana upaya yang harus ditempuh untuk melestarikan swasembada beras yang dicapai itu, disamping mewujudkan swasembada komoditas pangan lain.

Pemerintah sendiri telah memiliki beberapa strategi untuk mewujudkan swasembada pangan non-beras, antara lain :

  • Diversifikasi Pangan dengan mengembangkan bahan pangan alternatif seperti sagu, ubi, dan sorgum untuk mengurangi ketergantungan pada beras.
  • Pengembangan Infrastruktur Pertanian dengan membangun dan merehabilitasi infrastruktur pertanian seperti irigasi, bendungan, dan jalan tani untuk meningkatkan produktivitas lahan.
  • Penerapan Teknologi Pertanian Modern dengan mendorong penggunaan teknologi pertanian presisi, mekanisasi, dan digitalisasi untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas.
  • Pengembangan Varietas Unggul dengan mengembangkan benih unggul yang tahan hama, cuaca ekstrem, dan memiliki produktivitas tinggi.
  • Ekspansi dan Optimasi Lahan Pertanian dengan mencetak sawah baru dan optimalisasi lahan pertanian untuk memperluas area tanam.
  • Stabilisasi Harga dan Distribusi Pangan dengan menjaga stabilitas harga pangan melalui cadangan beras pemerintah dan operasi pasar.
  • Perlindungan dan Pemberdayaan Petani dengan memberikan asuransi pertanian, subsidi pupuk, dan bantuan modal usaha untuk meningkatkan kesejahteraan petani.

Selain itu, pemerintah juga fokus pada pengembangan komoditas pangan lain seperti jagung, kedelai, dan gula. Contohnya, pemerintah menargetkan swasembada jagung untuk pakan ternak dan tidak akan impor jagung pada tahun 2025. Pertanyaan kritisnya adalah bagainana Pemerintah akan mampu melaksanakan program yang sama-sama berat secara berbarengan ?

Di satu pihak perlu kesungguhan untuk mewujudkan swasembada beras berkelanjutan atau dalam bahasa idealnya disebut swasembada beras sepanjang masa dan di pihak lain, dituntut pula untuk mewujudkan swasembada komoditas pangan non beras seperti jagung, jedele, daging dapi, gula, bawang putih dan lain sebagainya.

Ke dua hal ini, tentu membutuhkan strategi dan kebijakan khusus yang penting dirancang, dirumuskan dan diskenariokan oleh Pemerintah. Sebab, apa pun alasannya, ke dua hal tersebut, sama-sama akan menentukan pencapaian swasembada pangan yang jadi kebijakan lrioritas Pemerintahan Presiden Prabowo bersama Kabinet Merah Putihnya.

Dari swasembada beras menuju swasembada pangan, bukan cuma sekedar jatgon politik. Apalagi kalau cuma dijadikan kalimat pemanis dalam penomen-claturan sebuah proyek pembangunan. Kita ingin ada skenario yang utuh, holistik dan komprehensif, agar ke dua suasana distas dapat diwujudkan dalam waktu yang bersamaan.

Swasembada beras yang sudah diproklamirkan pencapaiannya, jsemestinya angan dianggap sudah selesai. Swasembada beras harus tetis digarap dengan semangat untuk melestarikan. Ingat pengalaman membuktikan, upaya mempertahsnksn atau bahkan melestarikan itu, umumnya akan lebih sulit ketimbang saat kira meraihnya.

Bangsa ini memang belum memiliki pengalaman yang mumpuni, bagaimana merumuskan langkah terbaik untuk mewujudkan swasembada beras berkelanjutan atau swasembada beras sepanjang masa. Selama ini, kita lebih berpengalaman melahirkan swasembada beras yang sifatnya "on trend". Itulah yang terjadi saat swasembada beras 1984 dan 2023.

Swasembada beras 2025, jelas harus berbeda. Jangan lagi swasembada beras "on trend" terus menjebak kisah sukses pencapaian swasembada beras 2025. Saat ini, kita harus berani berkomitmen bahwa swasembada beras 2025 adalah "kata kunci" tercapainya swasembada pangan seperti yang diharapkan Presiden Prabowo.

Semoga !

Sumber:
ENTANG SASTRAATMADJA - ANGGOTA DEWAN PAKAR DPN HKTI