
ENTANG SASTRAATMADJA | Sumber Foto:Dok. PRIBADI
AGRONET -- Krisis pangan adalah situasi di mana ketersediaan pangan tidak mencukupi kebutuhan masyarakat, sehingga menyebabkan kekurangan gizi, kelaparan, dan bahkan kematian. Hal ini dapat disebabkan oleh berbagai faktor, seperti bencana alam, konflik, perubahan iklim, dan krisis ekonomi.
Dalam konteks yang lebih luas, krisis pangan juga dapat diartikan sebagai ketidakstabilan harga pangan, kekurangan akses pangan, dan penurunan kualitas gizi masyarakat.
Secara lebih rinci, ke tujuh penyebab utama terjadinya krisis pangan itu adalah :
1. Bencana Alam. Kekeringan, banjir, dan perubahan cuaca ekstrem lainnya dapat merusak tanaman pangan dan mengurangi produksi.
2. Konflik dan Perang. Konflik dan perang dapat mengganggu produksi, distribusi, dan akses pangan.
3. Perubahan Iklim. Perubahan iklim dapat mempengaruhi produksi pangan, meningkatkan frekuensi bencana alam, dan mengubah pola tanam.
4. Krisis Ekonomi. Krisis ekonomi dapat menyebabkan inflasi, penurunan pendapatan, dan penurunan akses pangan.
5. Populasi yang Meningkat. Pertumbuhan populasi yang cepat dapat meningkatkan tekanan pada sumber daya pangan.
6. Penggunaan Lahan yang Tidak Efektif. Penggunaan lahan yang tidak efektif, seperti deforestasi dan urbanisasi, dapat mengurangi lahan pertanian.
7. Kerusakan Infrastruktur. Kerusakan infrastruktur, seperti jalan dan gudang, dapat mengganggu distribusi pangan.
Krisis pangan kini menghantam jantung negeri adidaya, Amerika Serikat. Negeri yang selama ini dikenal sebagai raksasa ekonomi dunia, kini ribuan warganya harus mengantre panjang di depan food bank yang kini mulai kehabisan stok. Kondisi ini terjadi sejak dihentikannya Program Bantuan Nutrisi Tambahan atau SNAP (Supplemental Nutrition Assistance Program) — program anti-kelaparan terbesar di Amerika Serikat yang selama ini memberikan bantuan makanan bagi rumah tangga berpenghasilan rendah di berbagai wilayah.
Tidak hanya itu, food bank di banyak wilayah kini kewalahan menghadapi lonjakan permintaan. Rak-rak penyimpanan mulai kosong, sementara pasokan dari toko kelontong menurun akibat inflasi dan kebijakan tarif yang menekan sektor perdagangan. Warga penerima bantuan pun mengaku kini hanya bisa mengandalkan sisa stok yang semakin menipis.
Lalu, bagaimana suasana yang tercipta di Tanah Merdeka ? Saat ini, Indonesia belum mengalami krisis pangan. Produksi beras nasional tahun 2025 diperkirakan meningkat signifikan, mencapai 34,77 juta ton, yang menunjukkan kenaikan sekitar 52,32% dibandingkan tahun sebelumnya. Hal ini membuat pasokan dalam negeri lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.
Namun, perlu diingat bahwa ketahanan pangan di Indonesia masih menghadapi beberapa tantangan, seperti perubahan iklim, ketergantungan pada impor pangan, dan kurangnya infrastruktur distribusi pangan di daerah pedesaan. Oleh karena itu, pemerintah terus melakukan upaya untuk meningkatkan produksi pangan, memperbaiki infrastruktur, dan meningkatkan akses masyarakat terhadap pangan yang berkualitas.
Untuk itu, dalam upaya agar Indonesia mampu terbebas dari krisis pangan, Pemerintahan Presiden Prabowo beserta Kabinet Merah Putihnya, telah mengembangkan beberapa strategi dan langkah guna meningkatkan ketahanan pangan dan mencegah terjadinya krisis pangan, antara lain :
Melalui strategi-strategi tersebut, pemerintah berharap dapat meningkatkan ketahanan pangan Indonesia dan mencegah krisis pangan.
Dalam rangka mendukung penerapan strategi dan program diatas, Pemerintah Indonesia telah melakukan beberapa "terobosan cerdas" untuk menghindari krisis pangan. Terobosqn-terobosan cerdas itu antara lain :
Pertama, Pemangkasan Saluran Distribusi Pupuk Subsidi. Pemerintah memangkas saluran distribusi pupuk subsidi yang berbelit-belit untuk memperlancar penyaluran pupuk kepada petani.
Kedua, Program Kartu Tani Program ini menggunakan teknologi untuk memastikan penyaluran pupuk subsidi hanya kepada petani yang berhak, melalui sistem verifikasi data dan transaksi elektronik.
Ketiga, Penambahan Alokasi Pupuk Subsidi. Pemerintah menambah jumlah alokasi pupuk subsidi bagi petani untuk meningkatkan produksi dan produktivitas hasil pertanian.
Keempat, Perbaikan Infrastruktur. Pemerintah berencana melakukan perbaikan infrastruktur, seperti irigasi, untuk mendukung sektor pertanian dan meningkatkan produktivitas.
Kelima, Pengawasan dan Penindakan. Pemerintah meningkatkan pengawasan dan penindakan terhadap penyelewengan pupuk subsidi.
Akhirnya, tentu kita sepakat bahwa krisis pangan, bukanlah suasana yang diinginkan. Tidak ada seorang pun pemimpin bangsa di negeri ini yang memimpikan terjadinya krisis pangan. Itu sebabnya, menjadi sangat masuk akal, bila apa-apa yang telah dipaparkan diatas, dapat kita cermati dengan seksama. Ayo kita bergerak untuk membebaskan Indonesia dari krisis pangan.
Sumber :
ENTANG SASTRAATMADJA, KETUA DEWAN PAKAR DPD HKTI JAWA BARAT
Sabtu, 24 Januari 2026
Sabtu, 17 Januari 2026
Selasa, 13 Januari 2026
Sabtu, 24 Januari 2026
Kamis, 22 Januari 2026
Minggu, 18 Januari 2026
Kamis, 15 Januari 2026
Selasa, 13 Januari 2026
Jumat, 23 Januari 2026
Jumat, 23 Januari 2026
Rabu, 21 Januari 2026










