Kemarau, Peternak di Belu NTT Mulai Kewalahan Sediakan Pakan

Senin, 03 Agustus 2020, 08:27 WIB

Peternak menyediakan pakan ternak masih bergantung pada alam. | Sumber Foto:KBRN

AGRONET -- Kemarau panjang di wilayah Kabupaten Belu-NTT dilaporkan berdampak terhadap penyediaan pakan ternak milik petani. Sebab ternak sapi piaraan warga tani karena hanya dilepas bebas tanpa dikandangkan.

Sedianya dapat memperoleh pakan berupa hijauan rumput maupun dedaunan serta ilalang yang tumbuh subur di alam saat musim penghujan. Sementara, seiring kemarau panjang rerumputan maupun dedaunan mulai menguning bahkan sampai mengering, sehingga menyebabkan ternak piaraan mulai kesulitan memperoleh pakan.

"Bulan-bulan begini belum terlalu susah kita sendiri cari di hutan rumput. Sapi kita lepas saja biar makan bebas," kata Yakobus Fahik, salah satu peternak di Dusun Susuk Desa Dualaus Belu, Minggu (2/8).

Yakobus mengatakan, yang dapat dilakukan untuk memenuhi makan ternak sapi piaraan mencari tambahan rumput maupun dedaunan ke kebun ataupun harus ke tengah hutan. Dikatakan, alternatif lain yang dapat dilakukan dengan mencari batangan pohon lontar yang kebanyakan diperoleh di tengah hutan. Kemudian membuat irisan sagu dari batangan lontar untuk  diberikan sebagai pakan tambahan ternak.

"Kalau bulan Oktober begitu cari sagu ke hutan. Habis kita memang tidak tanam lamtoro juga gala-gala, ada dikebun tapi sedikit saja. Kalau bulan begini kadang pikul di hutan. Sekarang terpaksa beli sagu, habis sapi mau makan apa mulai kering begini," ujar Yakobus.

Petani yang sudah menetap di dusun Susuk sejak 1980-an ini mengisahkan, apabila puncak kemarau panjang Oktober-November ancaman kekeringan meluas. Di samping ternak piaraan kurang makan, sulit juga untuk memperoleh minum karena sumber mata air sekitar lokasi kali mengering. 

Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri yang harus dihadapi warga tani peternak di Belu, karena memelihara hewan ternak masih secara tradisonal, bergantung ke alam. (KBRN/357)