Ekspor Kelapa Tembus Enam Benua

Jumat, 05 Juni 2020, 12:19 WIB

Kementan senantiasa memperkuat sistem perkarantinaan, digitalisasi layanan, dan sinkronisasi aturan protokol ekspor negara tujuan. | Sumber Foto:Humas Kementan

AGRONET -- Badan Karantina Kementerian Pertanian mencatat 13 ragam komoditas turunan kelapa laris di pasar global. Negara tujuan ekspornya pun telah menembus 6 benua, mulai dari benua Asia, Eropa, Australia, Afrika,  Amerika Utara, hingga Amerika Selatan. 

Hampir seluruh bagian kelapa telah diekspor, mulai dari daging kelapa, air kelapa, tempurung, sabut, dan batang kelapa. "Tidak hanya produktivitasnya yang tinggi, kualitas serta terpenuhinya persyaratan teknis negara tujuan yang menjadikan produk ini laris di banyak negara," kata Ali Jamil  melalui keterangan tertulisnya, (3/6). 

Menurut Jamil, eksportasi produk pertanian dalam bentuk jadi atau minimal setengah jadi sejalan dengan arahan Mentan (Syahrul Yasin Limpo, red) untuk lakukan hilirisasi terhadap produk ekspor. "Industri olahan kelapa telah menunjukkan keberhasilannya," tambah Jamil. 

Dari sistem IQFAST, fasilitasi sertifikasi ekspor produk olahan kelapa tercatat pada periode bulan Januari-Mei 2020 telah mencapai 463,5 ribu ton ke puluhan negara yang tersebar di 6 benua. 

Selain Indonesia, 4 negara lain penghasil olahan kelapa di dunia adalah Filipina, India, Brazil, dan Srilangka. Namun saat ini, dari catatan Barantan sepanjang tahun 2020, India telah mengimpor olahan kelapa dari Indonesia sebanyak 59,3 ribu ton, Brazil mencapai 1,2 ribu ton. Kemudian Srilangka impor 169,6 ribu ton, dan Filipina sebanyak 65,5 ribu ton. "Hal ini dapat diartikan kelapa kita menduduki posisi nomor satu di dunia," papar Jamil.

Olahan Kelapa Batam Meningkat

Kepala Karantina Pertanian Batam, Joni Anwar, menyebutkan permintaan sertifikasi ekspor kelapa (Cocos nucifera) di wilayahnya pada masa pandemi ini meningkat. "Tercatat 50% lebih tinggi dibandingkan periode yang sama ditahun lalu," kata Joni saat menyerahkan sertifikat kesehatan tumbuhan kepada eksportir PT. HGBI untuk 19 ton dengan nilai Rp 255 juta ke Malaysia. 

Dari sistem yang dimilikinya, pada caturwulan pertama tahun 2020, tercatat ekspor daging kelapa putih sebanyak 74 kali dengan total 1.500 ton dengan nominal 18 miliar rupiah.  Dibandingkan periode yang sama di tahun lalu yang hanya sebanyak 750 ton.

Tidak hanya itu, harga jual di tahun 2020 juga menunjukkan peningkatan 63.3% yakni Rp 12.600 per kilogram, sementara tahun 2019 hanya Rp 7.700 per kilogram. "Harapannya, ini menjadi angin segar bagi pelaku industri kelapa termasuk petaninya," imbuh Joni.

Sementara itu, Badan Pusat Statistik atau BPS  (3/6) merilis data yang menyebutkan adanya pertumbuhan ekspor pertanian pada April 2020 sebesar 12,66% atau senilai  US$0,28 dibandingkan periode yang sama tahun 2019 (YoY).  

Hal ini tentunya menjadi perhatian bagi Barantan yang berperan sebagai fasilitator pertanian diperdagangan internasional. "Selain memperkuat sistem perkarantinaan, digitalisasi layanan juga sinkronisasi aturan protokol ekspor negara tujuan kita tingkatkan," tutup Jamil. (139)