Teknologi Minakodal Hemat Pupuk Hingga 70 Persen

Senin, 18 Mei 2020, 10:09 WIB

Penerapan Minakodal perlu mempertimbangan aksesbilitas, agroekosistem lahan sawah, pengembangan komoditas unggulan daerah, potensi sumberdaya alam, ketersediaan sumberdaya manusia, titik ungkit inovasi, dan kondisi kelembagaan ekonomi petani. | Sumber Foto: Balitbangtan

AGRONET -- Petani di Kampung Parit Bugis, Desa Bintan Buyu, Kecamatan Teluk Bintan, Kabupaten Bintan, didampingi penyuluh dari Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) Provinsi Kepulauan Riau (Kepri), menebar ikan nila merah di lahan salah satu anggota Kelompok Tani Hidup Bersama bulan April lalu. Pendampingan dari BPTP Balitbangtan Kepri untuk mengubah strategi pertanian yang selama ini mereka lakukan. Sebelumnya petani hanya melakukan pertanian monokultur.

Diversifikasi pertanian yang diintroduksikan ini dikenal dengan teknologi mina padi kolam dalam (Minakodal). Model teknologi Minakodal ini merupakan terobosan baru usaha pertanian yang sedang diterapkan BPTP Balitbangtan Kepri. Pengembangan tahap pertama dilakukan di Kampung Parit Bugis Desa Bintan Buyu (0,15 ha) dan pengembangan tahap kedua dilakukan di Kampung Poyotomo Desa Sri Bintan (0,50 ha).

Teknologi baru ini ternyata menarik minat pemerintah daerah setempat. Sebagai mana dilansir Balitbangtan Pertanian (15/5), Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Kesehatan Hewan (DKPPKH) Provinsi Kepri dan Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Bintan, mengunjungi demplot teknologi Minakodal di Desa Bintan Buyu beberapa waktu lalu.

Dalam kunjungan tersebut, Kepala BPTP Balitbangtan Kepri, Sugeng Widodo, menjelaskan bahwa teknologi Minakodal yang diterapkan bertujuan untuk optimalisasi lahan pertanian di Bintan yang jumlahnya terbatas. Teknologi ini menggunakan VUB Padi Inpara 6 dan komponen teknologi jajar legowo 2:1 sehingga semua tanaman optimal mendapatkan sinar matahari.

Pemupukan yang dilakukan adalah pemupukan kimia 1/2 rekomendasi lahan sawah, pemupukan organik takaran 2,50-3,0 ton/ha, serta penambahan dolomit 1 ton/ha. Selain itu, digunakan terpal pada pinggiran galengan serta ditutup dengan tanah untuk menjaga keawetan terpal yang digunakan.

Ikan nila merah yang ditebar berukuran 7-9 cm, sebanyak 4 ekor per meter persegi lahan. Pemeliharaan ikan dilakukan selama umur tanaman padi, lebih kurang 80 hari. “Keuntungan Minakodal dapat mengurangi penggunaan pupuk hingga 70 persen. Ini karena kotoran ikan dapat menjadi pupuk tanaman. Kotoran ikan bisa jadi pupuk alami dan tidak merusak tanah. Pola Minakodal dapat meningkatkan produksi 20-30% sehingga diharapkan dapat mendukung ketahanan pangan di Provinsi Kepri,” kata Sugeng.

Keuntungan lainnya dikemukakan penyuluh dari BPTP Balitbangtan Kepri, bahwa Minakodal merupakan salah satu sistem budidaya ikan di sawah yang memiliki banyak keuntungan baik dari segi pakan dan pupuk. Ikan dapat mencari banyak pakan alami atau hama yang berada di sawah sehingga mampu menekan biaya pakan.

Pengembangan teknologi tersebut mendapat dukungan penuh oleh Dinas DKPPKH Provinsi Kepri. “Dengan adanya teknologi Minakodal seperti ini semoga juga dapat meningkatkan produktivitas padi sampai di atas 4,5 ton/ha sehingga dapat meningkatkan ekonomi petani,” jelas Izhar.

Hal senada juga disampaikan Kepala Dinas DKPP Kabupaten Bintan, Khairul. Menurutnya, dengan Minapadi nilai tambah lahan sawah secara ekonomi akan nyata didapatkan.

Beberapa penyuluh pemerintah daerah yang hadir dalam kunjungan tersebut mengaku tertarik dengan teknologi Minakodal yang dirintis BPTP Balitbangtan Kepri sejak awal tahun 2020. “Terima kasih BPTP Kepri telah memberikan pembelajaran dan edukasi kepada kami sebagai penyuluh. Semoga ini nanti berhasil dan memberikan nilai tambah bagi petani, sehingga mudah untuk kami tularkan kepada petani lain karena sudah ada contohnya,” ungkap Syahrinaldi, selaku kordinator penyuluh Kecamatan Teluk Bintan.

Sugeng juga menambahkan terdapat beberapa prasyarat yang harus diperhatikan dalam penentuan lokasi percontohan teknologi Minakodal. Diantaranya adalah pertimbangan aksesbilitas, agroekosistem lahan sawah, pengembangan komoditas unggulan daerah, potensi sumberdaya alam, ketersediaan sumberdaya manusia, titik ungkit inovasi, dan kondisi kelembagaan ekonomi petani.

Ke depan, pengawalan teknologi ini akan terus dilakukan agar pemeliharaan tanaman padi dan budidaya ikan dapat dilakukan dengan baik sehingga didapatkan hasil optimal. Dengan begitu, kesejahteraan petani akan meningkat karena memperoleh dua hasil sekaligus dalam satu musim tanam, panen padi dan ikan. (Balitbangtan/591)