Mentan Dorong Konsumsi Pangan Lokal Non-Beras

Minggu, 08 Desember 2019, 12:23 WIB

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (kedua dar kiri) mencicipi produk makanan olahan di salah satu booth makanan pada acara Gelar Pangan Lokal Berbasis UMKM di kawasan Malioboro, Yogyakarta, Minggu (8/12). | Sumber Foto:Agronet/360

AGRONET – Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo kini sudah merasakan betapa kekayaan dan keberagaman pangan lokal mampu menopang aktivitas keseharian setiap penduduk. Sebelum menjabat sebagai Mentan, Syahrul mengaku termasuk orang yang tidak bisa makan tanpa beras sebagai makanan pokok.

Sebagaimana umumnya penduduk Indonesia, kata Mentan, dia menganggap beras adalah makanan pokok yang wajib ada untuk memenuhi kebutuhan energi dan karbohidrat setiap hari. “Saya nggak merasa makan itu kalau belum beras. Baru snack. Tapi sejak menjadi Menteri Pertanian, semua daerah menyajikan makanan dan ternyata enaknya luar biasa. Ini cuma membiasakan dan harus paksa sedikitlah. Kok barang sehat tidak kita paksakan?” ujar Syahrul Yasin Limpo saat membuka acara Gelar Pangan Lokal Berbasis UMKM di Malioboro, Yogyakarta, Minggu (8/12).

Mentan pun mengimbau agar masyarakat tidak lagi menganggap beras sebagai makanan pokok yang tak bisa tergantikan. Apalagi, persepsi yang menempatkan beras adalah segalanya tersebut telah membuat masyarakat Indonesia sebagai konsumen beras terbesar di dunia. Saat ini, konsumsi beras setiap penduduk Indonesia mencapai 11 kilogram per kapita per tahun. Akibatnya, banyak orang kegemukan alias kelebihan berat badan. Dari kelebihan berat badan tersebut, muncullah berbagai macam penyakit yang tak jarang harus diobati dengan obat-obatan, kimia, dan lain-lain yang mahal harganya.

“Semua itu bisa dihindari kalau kita coba membangun pola makan yang sehat dengan pangan lokal yang baik,” ujar Syahrul.

Dengan alasan itu, Mentan meminta semua pejabat pemerintah di daerah maupun pusat di seluruh Indonesia agar mendorong konsumsi pangan lokal sebagai bagian dari gerakan budaya. “Mulai dari Jogja. Kita dorong itu bagian dari budaya. Jangan bicara budaya tarian yang hebat, jangan bicara budaya dari tradisi keris yang kuat tanpa bicara soal pangan yang sehat itu. Barulah sempurna kita bicara mempertahankan budaya,” ujar Syahrul.

Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Sri Sultan Hamengkubuwono X menyatakan, ketidakcukupan pangan adalah ancaman langsung terhadap stabilitas sosial dan ketahanan nasional sebuah bangsa. Karena itu, tidak ada satu pun negara di dunia yang tidak menaruh perhatian yang tinggi terhadap strategisnya kecukupan pangan.

Dalam konteks produksi pangan yang terkendala dengan ketersediaan lahan yang memadai, kata Sri Sultan, langkah yang perlu dilakukan adalah diversifikasi pangan dan intensifikasi pertanian dengan penerapan teknologi tepat guna. “Dalam kerangka itulah, DIY menerapkan aksi penganekaragaman pangan lokal untuk penguatan kedaulatan pangan melalui Gelar Pangan Lokal Berbasis UMKM hari ini,” kata Sri Sultan.

Kepala Badan Ketahanan Pangan (BKP) Kementerian Pertanian (Kementan) Agung Hendriadi menerangkan, acara Gelar Pangan Lokal Berbasis UMKM di Yogyakarta adalah rangkaian kegiatan yang bertujuan meningkatkan nilai tambah pangan lokal. Rangkaian kegiatan dimulai dari focus group discussion bertema Pengembangan Industri Pangan Lokal Berbasis UMKM yang sudah dilaksanakan pada Sabtu (7/12). Diskusi yang dihadiri para pakar, akademisi, praktisi, asosiasi, pemerintah, dan pemangku kepentingan di bidang pertanian tersebut menghasilkan program aksi nasional 2020-2024 yang meliputi aspek inovasi produk, pengembangan akses, dan penguatan kelembagaaan.

“Kami mohon izin, nanti program aksi ini akan kami sampaikan langsung kepada Bapak Menteri,” ujar Agung.

Perhelatan Gelar Pangan Lokal Berbasis UMKM yang mengambil tempat di kawasan Malioboro, tepatnya di depan Benteng Vredeburg, mengundang perhatian masyarakat luas. Ribuan orang tersedot perhatiannya menyaksikan dan mengunjungi puluhan booth yang menyajikan aneka makanan olahan khas daerah tertentu. Selain pameran inovasi pangan, ada juga lomba menggambar anak-anak dan talkshow yang menghadirkan pembicara-pembicara muda yang pakar dalam bidang brand marketing. (360)