Petani Pasaman Barat Mulai Gunakan Teknologi 4.0

Rabu, 16 Oktober 2019, 17:17 WIB

Direktur Pembiayaan Pertanian Kementerian Pertanian Indah Megahwati (kedua dari kanan) memberikan penjelasan cara kerja alat sensor cuaca dan tanah kepada petani di Desa Tanjung Durian, Kecamatan Gunung Tuleh, Kabupaten Pasaman Barat, Sumatera Barat, Rabu | Sumber Foto:Agronet/360

AGRONET – Para petani padi di Desa Tanjung Durian, Kecamatan Gunung Tuleh, Kabupaten Pasaman Barat, Sumatera Barat mulai menggunakan teknologi digital untuk bercocok tanam. Teknologi 4.0 berbentuk alat yang disebut RITx Soil and Weather Sensor tersebut dibenamkan di lahan sawah petani atas prakarsa Kementerian Pertanian (Kementan), BNI, Pemkab Pasaman Barat, dan PT Mitra Sejahtera Membangun Bangsa (PT MSMB).

“Alat ini nanti digunakan untuk memantau keadaan tanah dan memprediksi cuaca terkini, sehingga petani mempunyai panduan secara digital tanaman apa yang cocok ditanam, kapan harus mulai tanam, dan kapan harus pemupukan,” kata Direktur Pembiayaan Pertanian pada Direktorat Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian Kementan Indah Megahwati pada acara Gerakan Menyongsong Pertanian 4.0 dan Impelementasi Pertanian Presisi di Pasaman Barat, Rabu (16/10).

Indah melanjutkan, data-data yang didapat RITx Soil and Weather Sensor dengan memanfaatkan satelit tersebut akan terkoneksi secara online dan dapat dipantau melalui aplikasi. Aplikasi bisa dijalankan dengan menggunakan telepon pintar berbasis android. Dengan demikian, ke depan petani bisa memantau kondisi lahannya di depan layar telepon genggam yang mereka miliki.

“Jadi, teknologi 4.0 ini membantu petani untuk lebih modern dalam melakukan cocok tanam, lebih efisien menggunakan pupuk karena rekomendasi yang didapat bisa lebih presisi, dan tentu pada akhirnya meningkatkan hasil produksi yang bisa menaikkan kesejahteraan petani,” tutur Indah.

Indah pun berharap, penerapan teknologi 4.0 dapat menumbuhkan semangat para petani muda (milenial) sekaligus mematahkan persepsi bahwa pekerjaan di sektor pertanian merupakan pekerjaan yang konvensional dan tertinggal. Sehingga di masa mendatang, pertanian nasional dikelola oleh kaum muda dengan traktor-traktor canggih, drone, dan alat-alat modern lainnya.

“Bertani menggunakan cangkul perlahan akan kita tinggalkan. Bantuan dari Kementan pun sudah tidak lagi berupa cangkul-cangkul, melainkan traktor roda 4, handtractor, combine harvester, dan alat-alat pertanian modern lainnya,” ujar Indah.

Asisten Daerah II Pasaman Barat Irwan yang hadir mewakili Bupati Yulianto mengatakan, pemda menyampaikan terima kasih dan rasa syukurnya kepada para pihak yang telah berkontribusi mewujukan pertanian digital di daerahnya. Dia berharap, para petani di Pasaman Barat dapat memanfaatkan perkembangan teknologi yang tersedia untuk meningkatkan produksi serta menaikkan pendapatannya.

Saat ini, kata Irwan, Psaman Barat memiliki lahan sawah seluas 13.105 hektare yang menghasilkan padi 114.950 ton per tahun dengan produktivitas 4,9 ton per hektare. Produksi padi setara 72.648 ton beras tersebut sudah mencukupi kebutuhan konsumsi beras penduduk Pasaman Barat yangmencapai 43.740 ton per tahun.

“Ketersediaan beras untuk masyarakat Pasaman Barat saat ini sudah mengalami surplus sebesar 28.908 ton per tahun. Saya berharap peningkatan produksi dengan penerapan teknologi ini bisa makin mensejahterakan petani,” ujar Irwan.

General Manager Divisi Bisnis Usaha Kecil 2 BNI Bambang Setyatmojo menerangkan, implementasi pertanian presisi di Pasaman Barat semakin melengkapi rangkaian dari program corporate sosial responsibility (CSR) BNI di bidang pertanian.

“Ini merupakan komitmen kami dalam membangun sektor pertanian. BNI berharap, penggunaan teknologi digital semakin membuat petani memiliki daya saing dan meningkatkan produktivitasnya,” kata Bambang.

Bambang menjelaskan, gerakan penerapan pertanian 4.0 melalui mekanisasi dan digitalisasi sudah sejalan dengan visi pemerintah. BNI bersama Kementan, Kemenkominfo, pemda, dan PT MSMB akan melanjutkan gerakan tersebut di 12 daerah lainnya.

“Sebelum di sini, kita sudah lakukan di Garut, Jawa Barat. Ke depan menyusul daerah-daerah lainnya,” ujar Bambang. (360)

BERITA TERKAIT