Petani Milenial Diimbau Terapkan Budidaya Ramah Lingkungan

Kamis, 19 September 2019, 05:55 WIB

Para petani milenial yang menerapkan budidaya ramah lingkungan. | Sumber Foto:Humas Ditjen Hortikultura

AGRONET -- perubahan gaya hidup dan pola konsumsi masyarakat yang semakin dinamis menuntut penyediaan bahan pangan yang aman dikonsumsi. Tak terkecuali dalam penyediaan produk hortikultura, seperti sayuran dan buah-buahan yang makin dituntut berkualitas, segar, dan bebas residu pestisida kimia. Hal itu tentu menuntut sistem produksi hulu agar terus berbenah dan menyesuaikan diri. Salah satunya dengan cara menerapkan teknik budidaya ramah lingkungan.

Direktur Perlindungan Hortikultura Kemenerian Pertanian (Kementan) Sri Wijayanti Yusuf mengatakan, sebagai negara agraris beriklim tropis, pertanian Indonesia tak hanya harus mampu menghasilkan produk dengan jumlah yang mencukupi, namun juga harus berkualitas, sehat, dan aman dikonsumsi. “Sistem budidaya pertanian kita mau tidak mau harus menerapkan standar mutu dan keamanan pangan, tak hanya level nasional tapi berstandard global. Ini menjadi bagian penting dalam rangka mewujudkan target Indonesia menjadi Lumbung Pangan Dunia 2045,” ujar Yanti di sela Focus Group Discussion (FGD) Perlindungan Hortikultura di Bogor, pekan lalu.

Menurut Yanti, ke depan, trend budidaya ramah lingkungan, lebih-lebih yang mampu menghasilkan produk organik, akan semakin meningkat. Direktorat Perlindungan Hortikultura Kementan sudah membaca dinamika perkembangan tersebut. Karena itu, program dan strategi jangka pendek dan menengah sudah dirumuskan dalam skenario Grand Design Ditjen Hortikultura 2020-2024. Berbagai program diluncurkan, terutama untuk memfasilitasi segmen petani muda milenial, agar sejak awal sudah menerapkan prinsip budidaya ramah lingkungan.

“Kita dorong para petani muda milenial mampu menjadi agen perubahan perbaikan sistem budidaya hortikultura. Sudah tidak zamannya lagi berbudidaya secara konvensional yang ngandelin pestisida kimia. Nggak banget deh,” kata dia.

Sistem budidaya ramah lingkungan saat ini sudah berkembang luas di sentra-sentra produksi buah dan sayuran di Indonesia. Salah satunya di Desa Tlogo Kecamatan Mirit Kabupaten Kebumen, Provinsi Jawa Tengah. Para petani muda dan milenial di wilayah tersebut dikenal aktif mendorong implementasi budidaya ramah lingkungan kepada seluruh petani binaan.

Kepala Laboratorium Pengamatan Hama dan Penyakit Tanaman (Lab PHP) Temanggung Retno Dyah menjelaskan, saat ini setidaknya ada 5 desa di Kecamatan Mirit Temanggung yang telah mengembangkan budidaya ramah lingkungan, yaitu Desa Mirit, Klogo Depok, Mirit Petiguson, Sumber Jati, dan Wiro Marta. Cakupan luasannya kurang lebih 20 hektare. Selama ini, kata Retno, kelompok tani antusias dan responsif terhadap penggunaan bahan agens hayati.

“Kami bersama tim secara intensif melakukan pembinaan di wilayah ini. Alhamdulillah bisa berkembang dengan baik. Tanaman pembatas yang diketahui mampu menekan hama seperti refugia dan bunga matahari sudah banyak ditanam petani. Demikian pula penggunaan likat kuning serta trichoderma sudah biasa dilakukan petani di sini,” ujar Retno.

Ketua Kelompok Tani Krajan Taat yang juga sekaligus petani champion cabai Desa Tlogo Pragoro Kecamatan Mirit, Kebumen mengaku sangat antusias mengembangkan budidaya ramah lingkungan di daerahnya. Menurut Taat, sudah dua tahun terakhir dia bersama kelompok dan tiga desa binaan sangat konsen mengembangkan dan menggaungkan metode ramah lingkungan.

“Sambutan petani ternyata luar biasa. Yang penting ada yang mau memberi contoh dan ada bukti positifnya. Kami fokus di komoditas cabai dan pepaya California,” kata Taat yang dikenal sebagai petani muda milenial itu.

Taat menambahkan, dengan menerapkan sistem budidaya ramah lingkungan dan pengaturan pola tanam, banyak manfaat yang diperoleh. Antara lain, produk cabai dan pepaya makin banyak diburu pedagang maupun konsumen. Permintaan terus meningkat. Hasil panen ternyata juga bisa lebih optimal kualitas maupun jumlahnya.

“Biaya impas produksi cabai di wilayah Mirit Kebumen yang semula Rp 12 ribu sampai Rp 13 ribu per kilogram, setelah kami mengaplikasikan penggunaan agens hayati bisa ditekan menjadi Rp 10 ribu rupiah,” kata Taat. (360)