Masyarakat Kota Kini Sudah Bisa Jadi Produsen Sayuran

Sabtu, 14 September 2019, 07:06 WIB

Acara kunjungan lapangan Ditjen Hortikultura Kementerian Pertanian saat meninjau kawasan sayuran perkotaan di Ampenan, Mataram, Nusa Tenggara Barat, Rabu (11/11).

AGRONET - Kota Mataram, pusat bisnis dan pemerintahan Provinsi Nusa Tenggara Barat, ternyata masih memiliki celah pengembangan kawasan sayuran. Melalui komunitas kelompok tani, Kota Mataram berhasil menumbuhkan kawasan sayuran perkotaan.

Kepala Seksi Pengembangan Kawasan Aneka Cabai pada Direktorat Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian (Kementan) Hanang Dwi Atmojo mengungkapkan rasa bangga melihat kawasan sayuran dapat tumbuh di perkotaan. "Ternyata, semangat untuk membangun kawasan produksi sayuran tak hanya ada di desa-desa, lingkungan perkotaan pun memiliki semangat dan potensi yang sama baiknya," kata Hanang saat melakukan kunjungan lapang di Kota Mataram, Rabu (11/9).

Menurut dia, pengembangan kawasan sayuran di perkotaan membuat masyarakat kota tak sekadar menjadi konsumen, namun sekaligus menjadi produsen sayur. "Artinya, masyarakat perkotaan kini tidak hanya menjadi konsumen, namun mampu berproduksi sendiri. Ini merupakan contoh yang bagus. Saya berharap kota-kota lain bisa mengikuti,” ujar Hanang.

Kepala Seksi Pengembangan Produksi Hortikultura Kota Mataram Rihul Jannah menyebutkan, bersama kelompok tani, pertanaman aneka sayuran berhasil dilakukan. Salah satu contoh sukses adalah Kelompok Tani Kuntum di Kecamatan Ampenan Kota Mataram yang mengembangkan cabai rawit, bawang merah, sawi sendok, labu, terong, dan golden melon.

"Yang menarik di sini, petani menjual langsung hasil panennya ke masyarakat sekitar. Rata-rata penjualan komoditas sayuran buah dan umbi per hari mencapai 50 kilogram," kata dia.

Rihul melanjutkan, kawasan produksi sayuran perkotaan mampu memotong rantai tata niaga dengan cara melakukan penjualan langsung ke konsumen akhir. Dengan demikian, harga di tingkat konsumen tidak terlalu mahal namun petani tetap mendapatkan keuntungan. Ketua Kelompok Tani Kuntum Japri memberikan peluang bagi semua kalangan yang tertarik untuk belajar budidaya sayuran di kebunnya. Dia bersedia meluangkan waktu, tenaga, dan pikiran untuk berbagi ilmunya. Dia pun menyarankan agar petani membuat asosiasi.

"Melalui asosiasi, posisi tawar petani lebih kuat dan pengaturan pola tanam menjadi lebih tertata. Saya sedang mencoba terobosan baru dengan mendirikan pasar lelang cabai. Saat ini sudah beroperasi seminggu sekali dengan kapasitas cabai 500 kilogram sekali transaksi,” kata Japri yang sudah berhasil mendirikan Asosiasi Petani Cabai di Kota Mataram.

Pelaksana Tugas Direktur Sayuran dan Tanaman Obat Ditjen Hortikultura Kementerian Pertanian Sukarman menegaskan, pemerintah mendukung pengembangan sayuran perkotaan. Program itu dilakukan dengan memanfaatkan lahan-lahan tidur atau kurang produktif menjadi lahan menghasilkan.

"Pada 2019, Ditjen Hortikultura Kementerian Pertanian telah menyalurkan bantuan pengembangam kawasan cabai rawit seluas 30 hektare, cabai besar 20 hektare, dan bawang merah 5 hektare di Kota Mataram. Seluruhnya sudah tertanam dengan baik," kata Sukarman. (360)