Kementan Dorong Hilirisasi dan Kemitraan Produksi Nanas

Sabtu, 29 Desember 2018, 07:23 WIB

Dirjen Hortikultura, Suwandi, meninjau perkebunan nanas di Subang. | Sumber Foto: Biro Humas dan Informasi Publik Kementan

AGRONET - Kementerian Pertanian (Kementan) mendorong hilirisasi dan kemitraan dalam produksi nanas. Seperti Kabupaten Subang, Jawa Barat, sebagai salah satu sentra produksi nanas, perlu ditingkatkan agar dapat memiliki nilai tambah sehingga bisa meningkatkan petani.

Upaya meningkatkan potensi lahan di Subang dengam cara menggunakan benih bermutu untuk peremajaan, pemupukan yang baik, meningkatkan kemitraan industri pengolahan, maupun ekspor. Luas areal nanas di Subang mencapai 2,100 hektare yang tersebar di lima kecamatan, terluas ada di Jalan Cagak.

Dirjen Hortikultura, Suwandi, menjelaskan jika diolah nilai tambah nanas akan semakin meningkat, seperti diolah menjadi produk enzim bromeolin, selai, keripik, dodol, konsentrat bahan industri, nanas kaleng, sirup, dan lainnya. "Nilai tambah ini akan memberi tambahan pendapatan bagi petani dan harga jual nanas saat musim panen tidak merugikan petani," jelasnya saat berkunjung di Subang, Jumat (28/12). Turut mendampingi Kepala Bidang Hortikultura Dinas Pertanian Kabupaten Subang, Sulaiman Sidik.

Suwandi merinci, pada tahun 2017 total ekspor nanas Indonesia mencapai 210.026 ton. Dari jumlah tersebut 95 persen di dalam bentuk olahan. Ekspor nanas 80?ri total ekspor buah, dengan nilai devisa dari nanas sekitar Rp3,3 triliun. Indonesia sendiri tidak penting nanas. 

Negara tujuan ekspor, antara lain Jepang, Uni Emirat Arab, Korea Selatan, Arab Saudi, Hongkong, Singapura, dan berbagai negara lainnya. “Data statistik yang menunjukkan produksi nanas 2018 diprediksi 1,85 juta ton atau naik 3,1 persen dibandingkan 2017 sebesar 1,79 ton,” tukasnnya.

Sementara itu, Sulaiman Sidik mengatakan nanas yang berkembang adalah jenis varietas Subang. Luasnya mencapai 2,100 hektare. "Bila petani menggunakan benih seadanya dari tanaman yang ada, ukuran buah lebih kecil dan lebih banyak. Untuk itu perlu diperkenalkan teknik benih dan budi daya yang baik," katanya.

Dinas Pertanian setempat memberdayakan kelompok tani, mengarahkan peremajaan kebun nanas, dan meningkatkan produktivitas. "Untuk nanas yang masuk ke supermarket dan ekspor, kualitas nanas harus dijaga dengan teknologi pasca panen hingga pengemasan yang baik," tambahnya.

Ketua kelompok tani Mekarsari Maju, Desa Sarireja, Kecamatan Jalan Cagak, Afrizal Ali, mengatakan pihaknya mengelola 63 hektare bersama 50 petani nanas yang sudah bermitra dengan industri selai. Setiap tahun mengisi 500 ton atau menghitung 20 ton. Harga flat Rp4.500 per kg, sedangkan harga impasnya atau break event point (BEP) Rp2.500 per kg.

"Bila dibudidayakan dengan mulsa dan pemupukan yang baik, menghasilkan 2-4 kilogram per buah. Sementara jika dikelola tanpa mulsa dan pupuk, harga BEP Rp1.000 per kilogram, hasil juga rendah hanya 1-1,5 kilogram per buah," lanjutnya. (591)