
Beras | Sumber Foto:Pixabay
AGRONET -- "Hipnotis beras" dalam kaitannya dengan judul tulisan kali ini, merujuk pada fenomena di mana masyarakat Indonesia, khususnya, telah terhipnotis oleh budaya dan kebiasaan makan nasi sebagai makanan pokok. Mereka telah terbiasa mengkonsumsi nasi sebagai sumber karbohidrat utama dan sulit untuk beralih ke sumber karbohidrat lainnya, seperti singkong, ubi jalar, atau jagung.
Fenomena ini disebut "hipnotis" karena masyarakat telah terprogram untuk menganggap nasi sebagai makanan pokok yang paling lezat dan memuaskan, sehingga mereka sulit untuk menerima alternatif lainnya. Hal ini juga dipengaruhi oleh faktor budaya, tradisi, dan ketersediaan nasi yang meluas di Indonesia.
Jadi, "hipnotis beras" dalam konteks ini bukanlah tentang teknik hipnotis yang sebenarnya, melainkan sebuah metafora untuk menggambarkan ketergantungan masyarakat pada nasi sebagai makanan pokok.
Penyebab utama berlangsungnya "hipnotis beras" di Indonesia adalah kombinasi dari beberapa faktor, yaitu :
Pertama, ketersediaan beras yang meluas. Beras telah menjadi komoditas pangan yang paling banyak diproduksi dan dikonsumsi di Indonesia, sehingga membuatnya menjadi pilihan utama sebagai makanan pokok.
Kedua, kebijakan Pemerintah. Pemerintah Indonesia telah lama mendukung produksi dan distribusi beras, sehingga membuatnya menjadi lebih mudah dijangkau dan terjangkau oleh masyarakat.
Ketiga, budaya dan tradisi. Nasi telah menjadi bagian dari budaya dan tradisi Indonesia, sehingga masyarakat telah terbiasa mengkonsumsinya sebagai makanan pokok.
Keempat, ketersediaan Infrastruktur. Infrastruktur distribusi dan penyimpanan beras telah berkembang dengan baik, sehingga membuatnya lebih mudah untuk didistribusikan ke seluruh wilayah Indonesia.
Kelima, peningkatan Produktivitas. Produktivitas padi telah meningkat secara signifikan berkat adanya teknologi pertanian modern, sehingga produksi beras meningkat dan membuatnya lebih terjangkau.
Kombinasi dari faktor-faktor tersebut telah membuat masyarakat Indonesia terhipnotis oleh beras sebagai makanan pokok, sehingga mereka sulit untuk beralih ke sumber karbohidrat lainnya. Beras seolah-olah menjadi satu-satunya bahan pangan pokok dan tak tergantikan oleh bahan pangan lain.
Sikap pemerintah dalam menghadapi fenomena "hipnotis beras" haruslah bijak dan strategis. Berikut beberapa pemikiran yang disarankan antara lain :
Dengan sikap yang bijak dan strategis, pemerintah dapat membantu masyarakat Indonesia untuk mengurangi ketergantungan pada beras dan meningkatkan diversifikasi pangan.
Pemerintah sendiri memiliki beberapa strategi untuk mengatasi ketergantungan pada beras dan meningkatkan diversifikasi pangan. Berikut beberapa langkah yang dapat terus dikembangkan antara lain :
Tak kalah penting untuk dicermati, Pemerintah juga memiliki target untuk menurunkan konsumsi beras menjadi 85 kg per kapita per tahun pada tahun 2025 dan meningkatkan produksi pangan lokal. Semua ini digarap agar masyarakat dapat segera terbebaskan dari hipnotis beras.
SUMBER :
ENTANG SASTRAATMADJA, KETUA DEWAN PAKAR DPD HKTI JAWA BARAT
Sabtu, 24 Januari 2026
Sabtu, 17 Januari 2026
Selasa, 13 Januari 2026
Sabtu, 24 Januari 2026
Kamis, 22 Januari 2026
Minggu, 18 Januari 2026
Kamis, 15 Januari 2026
Selasa, 13 Januari 2026
Jumat, 23 Januari 2026
Jumat, 23 Januari 2026
Rabu, 21 Januari 2026










