kenaikan pasokan di Brasil sekaligus menurunnya nilai mata uang real Brasil menjadi penyebab harga gula melandai.

Pemerintah India Tampik Kemungkinan Ekspor Gula

Selasa, 16 April 2024, 09:26 WIB

Tebu | Sumber Foto:Sarah&Jason/Wikimedia

AGRONET – Pemerintah India pada Senin (15/4/2024) menampik kemungkinan untuk mengekspor gula ke pasar internasional pada musim 2023-2024 yang berakhir Oktober. Namun, Indian Sugar Mills Association (ISMA) meminta pemerintah untuk mengizinkan ekspor 1 juta metrik ton gula, sebagai langkah antisipasi bahwa India akan memiliki pasokan gula yang cukup pada akhir musim ini.    

“Saat ini, pemerintah tidak mempertimbangkan ekspor gula meski ada permintaan dari pihak industri,” kata seorang petinggi di kementerian pangan India, kepada PTI, yang dikutip the Hindu.

Pada musim 2023-2024 yang sedang berjalan, produksi gula India melampaui 30 juta metrik ton hingga Maret lalu. ISMA juga sudah merevisi perkiraan produksi kotor gula pada musim ini menjadi 32 juta metrik ton. Sedangkan Pemerintah India memperkirakan output gula musim ini pada kisaran 31,5-32 juta metrik ton. Pemerintah India juga mempertimbangkan untuk mengizinkan pabrik gula menggunakan sisa pasokan molases jenis B-heavy untuk memproduksi etanol tahun ini.  

Harga melandai

Hingga Senin, harga gula menunjukkan kecenderungan melandai. Harga gula di New York mencapai titik terendah dalam 3 ½  bulan sedangkan harga gula di London menyentuk titik terendah dalam 3 ½  pekan.

Laman Nasdaq melaporkan, kenaikan pasokan di Brasil sekaligus menurunnya nilai mata uang real Brasil menjadi penyebab harga gula melandai. Unica pada Jumat lalu melaporkan output produksi gula di wilayah Brasil pusat dan selatan pada paruh kedua Maret mencapai 183.000 metrik ton, yaitu naik 9 persen dibanding periode yang sama tahun lalu.  

Hingga Maret, output produksi gula Brasil pada tahun pemasaran 2023-2024 naik 25,7 persen year on year (yoy) menjadi 42,425 juta metrik ton. Pabrik-pabrik gula Brasil dilaporkan mengalihkan penggilingan tebu untuk produksi gula daripada etanol. Pabrik gula telah menggiling 48,87 persen dari produksi tebu tahun ini. Angka ini menunjukkan kenaikan dibandin tahun lalu yang hanya mencapai 45,86 persen.

Nilai real Brasil yang melemah juga menjadi penyebab turunnya harga gula. Nilai real turun hingga menyentuh titik terendah dalam 6 ¼ bulan terhadap dolar AS. Penurunan nilai mata uang ini mendorong para produsen gula Brasil untuk melakukan ekspor. (yen)