Gula Termasuk Sumber Bahan Bakar Pesawat 2050

Senin, 05 Februari 2024, 10:58 WIB

Ladang tebu | Sumber Foto:Pxhere

AGRONET -- Tahun 2023, sebuah pesawat terbang berbahan bakar lemak dan tumbuhan melintasi Atlantik yang menggambarkan sekilas prospek masa depan industri penerbangan. Suatu hari, pesawat akan menggunakan bahan bakar yang berasal dari lemak seperti minyak goreng bekas, minyak tumbuhan, dan lemak hewan. Bahan dasar lainnya termasuk pati-patian, gula, sampah, rerumputan, hingga kotoran hewan dari kelinci yang mengandung bakteri tertentu. Semua itu menjadi sumber bahan bakar yang selama ini tidak dikenal luas.

Laman the Washington Post edisi Jumat (2/2/2024) melaporkan, sejumlah penerbangan di Amerika Serikat (AS) seperti Delta dan United, menetapkan target ambisius untuk memangkas emisi karbon menjadi nol hingga 2050 mendatang. Pesawat menyumbang 2 persen emisi karbon global. Dibanding mobil dan pembangkit tenaga listrik, pesawat paling tertinggal dalam upaya beralih dari bahan bakar dari fosil. Alasannya, hingga kini masih sulit merancang baterai listrik yang ringan namun mampu menyediakan tenaga listrik untuk pesawat jet komersial.

Maka, yang paling realistis untuk memotong emisi karbon dari industri penerbangan adalah dengan menggunakan bahan bakar yang lebih hijau, yang dikenal dengan istilah sustainable aviation fuels (SAF) atau bahan bakar aviasi yang berkelanjutan. Tahun lalu, AS mampu memproduksi SAF yang hanya memenuhi kurang dari 0,2 persen kebutuhan industri penerbangan. Pemerintahan AS di bawah Presiden Joe Biden membidik target untuk meningkatkan angka itu menjadi 100 persen hingga 2050.  

Sumber SAF yang dibidik untuk memenuhi kebutuhan pasar AS berasal dari ladang jagung dan tebu. Perusahaan penyulingan telah mampu mengubah pati dan gula-gulaan dari jagung dan tebu menjadi etanol, siap untuk dicampurkan ke dalam bensin dan solar untuk mobil dan truk.

Kini, perusahaan mulai membangun pabrik-pabrik yang mampu mengubah etanol menjadi bahan bakar jet. Salah satu perusahaan start-up yang memulai langkah itu adalah Lanzajet. Pekan lalu, mereka membuka pabrik pertama di dunia yang dapat mengubah alkohol menjadi bahan bakar jet. Pabrik ini akan membuat bahan bakar jet dengan menggunakan etanol yang berasal dari ladang jagung AS, tebu Brasil, dan asap pabrik yang telah difermentasi menjadi alkohol oleh bakteri.

Namun, rencana ini bukan tanpa tantangan. Bahkan, membuat bahakn bakar dari ladang pangan mungkin tidak bersifat berkelangsungan jika dibandingkan bahakn bakar dari sampah. Ladang memiliki keterbatasan dan memperluas ladang demi biofuel bisa berkonsekuensi buruk terhadap lingkungan seperti penggunaan air dan penggundulan hutan, yang berakibat melepaskan lebih banyak karbon ke atmosfer.

“Jika kita sekadar memproduksi lebih banyak etanol untuk memenuhi kebutuhan industri penerbangan… Maka kita akan menghadapi situasi yang ibaratnya, satu langkah maju namun dua langkah mundur sekaligus,” ujar Mark Brownstein, kepala tim transisi energi di lembaga nirlaba Environmental Defense Fund. Mungkin itulah sebabnya mengapa aturan di Eropa tidak memberi label “sustainable” pada sebagian besar tipe biofuel yang berasal dari ladang pangan. (yeyen)