Sepesialis komoditas di he Smart Cubes memperkirakan bahwa harga gula, minyak, dan emas akan naik tahun ini.

Konflik dan El Nino Penyebab Harga Komoditas Gula Naik 2024

Senin, 22 Januari 2024, 10:41 WIB

Grafik (ilustrasi) | Sumber Foto:Needpix

AGRONET – Spesialis senior Kumar Amit menganalisis fluktuasi pasar komoditas dan faktor-faktor yang berpengaruh pada 2024. Sepesialis komoditas di perusahaan intelijen bisnis The Smart Cubes ini memperkirakan bahwa harga gula, minyak, dan emas akan naik tahun ini.  

Menurut Kumar, ketegangan geopolitik yang terus terjadi menjadi salah satu pendorong yang menyebabkan komoditas dalam kondisi volatil pada 2024. “Sepanjang 2023, isu geopolitik di seluruh dunia --termasuk perang Rusia-Ukraina, perang Israel-Hamas, serta pertikaian chip antara Amerika Serikat dan China—berdampak secara signifikan terhadap komoditas,” ujarnya yang dikutip Food Manufacture, 19 Januari lalu.

Pada 2024, peristiwa itu akan berdampak pada keseimbangan pasokan dan kebutuhan berbagai komoditas dan membuat ketidakpastian tetap tinggi di pasar,” ujar Kumar menambahkan.

Ia juga menunjuk gangguan stabilitas adalah akibat perubahan iklim. “Cuaca juga memiliki dampak bullish terhadap harga komoditas lunak pada 2024. Fenomena cuaca El Nino akan berlangsung hingga setidaknya kuartal pertama 2024, menyebabkan kondisi panas dan kering di Indonesia, sejumlah wilayah Asia selatan, serta Afrika Barat dan Afrika Selatan. Kondisi ini akan mengarah pada defisit pasokan gula dan kakao, karena wilayah-wilayah itu adalah produsen penting bagi komoditas tersebut. Akibatnya, akan ad amomentum kenaikan harga pada dua komoditas itu,” kata Kumar.  

Sementara perak dan emas yang biasanya dipakai pada beragam industri dan komponen listrik, menunjukkan kenaikan harga pada 2023. Tahun ini, harga komoditas keras tersebut akan ikut naik seiring kenaikan gula dan kakao.

Sedangkan harga minyak diperkirakan akan turun naik pada 2024, pada kisaran 84 hingga 90 dolar AS per barel pada 2024. Ini menunjukkan kenaikan dari tahun lalu yang mencapai 82 dolar AS per barel.