
Animasi perkiraan iklim dan produk jagung serta gandum pada 2050. | Sumber Foto:Tangkapan layar/NASA
AGRONET – Kenaikan suhu bumi menyebabkan kekeringan dan kondisi ekstrem cuaca yang berdampak pada hasil panen di seluruh dunia. Kondisi ini berpengaruh besar pada salah satu komoditas penting dunia: gula.
“Cuaca ekstrem berdampak pada pangan –tahun lalu ini terjadi pada alpukat, dan sekarang yang terimbas adalah gula,” kata ahli ekonomi iklim dari sekolah bisnis di Columbia University, Gernot Wagner, dikutip Thread, Selasa (9/1/2024). “Climate-flation adalah hal penting dan kondisinya memburuk,” katanya menambahkan.
Bagi sebagian orang, perubahan iklim seakan belum menjadi ancaman yang bakal terjadi dalam waktu dekat. Meski berita perubahan ilim terus mendominasi media, manusia masih banyak yang menutup mata pada kondisi yang terjadi di planet kita.
Namun, fakta mengungkapkan bahwa pemanasan global telah menyebabkan kelangkaan pasokan gula. Akibatnya, harga komoditas ini pun melejit.
Data terbaru menunjukkan bahwa harga gula telah mencapai titik tertinggi dalam lebih dari dua dekade terakhir. Hal ini dipengaruhi oleh turunnya produksi gula India, tempat kekeringan parah telah mempengaruhi hasil panen mereka. Thailand juga baru-baru ini menghadapi kekeringan parah di seantero negeri. Padahal, kedua negara itu adalah pengekspor gula terbesar dunia setelah Brasil.
Muncul kekhawatiran bahwa jika mereka tidak mampu memenuhi kebutuhan dunia. Ini telah memicu harga pangan yang mengunakan gula, seperti coklat, permen, dan makanan lainnya.
Pada gelombang pertama inflasi pangan 2022, imbasnya pada harga gula tidak terlalu kentara dibanding komoditas penting lain seperti gandum, minyak tumbuhan, dan produk olahan susu.
Namun, kondisi saat ini amatlah berbeda. Departemen Pertanian Amerika Serikat (AS) melaporkan, harga gula konsumsi di AS naik 8,9 persen pada 2023. Kenaikan berikut diperkirakan terjadi sebesar 5,6 persen pada 2024. Perkiraan ini bahkan lebih tinggi dari rata-rata selama ini.
Keadaan kini diperburuk dengan pembatasan ekspor gula yang berlaku di negara produsen, sebagai upaya mereka memenuhi pasoakn dalam negeri sendiri. Hal lainnya adalah tersumbatnya pengiriman di pelabuhan Brasil, yang mengakibatkan ekspor ikut terhambat. Biasanya, negara-negara berkembang adalah negara yang paling terdampak.
“Tidak diragukan lagi harga gula amat sangat tinggi dan akan tetap tinggi sampai El Nino mereda,” ujar Joseph Glauber, periset di International Food Policy Research Institute.
Ia menekankan, kemampuan beli menjadi masalah penting. “Di AS dan negara berpenghasilan tinggi, harga pangan akan meningkat dan ini akan dirasakan oleh keluarga, terutama yang berpenghasilan rendah. Namun bagi negara lain yang menghabiskan 40 persen penghasilan mereka untuk makanan, mereka akan amat terpukul,” kata Glauber.
Secara keseluruhan, inflasi pangan di seluruh dunia mungkin bisa mencapai 3 persen hingga 2030-an, akibat perubahan iklim. Ini akan menjadi kenyataan jika tidak ada upaya untuk meredakan dampaknya.
Menurut Wagner, lahan pertanian kita telah terbiasa pada cuaca yang stabil dalam 10 ribu tahun terakhir. Kini, kita melewati ambang batas suhu bumi, maka muncul tantangan pada ketersediaan dan harga pasokan pangan.
“Produksi sejumlah lahan pangan penting tidak sekadar turun secara linear saat suhu meningkat, namun bak meluncur jatuh dari tebing tinggi akibat cuaca ekstrem,” kata Wagner. (yen)
Sabtu, 24 Januari 2026
Sabtu, 17 Januari 2026
Selasa, 13 Januari 2026
Kamis, 19 Februari 2026
Sabtu, 24 Januari 2026
Kamis, 22 Januari 2026
Minggu, 18 Januari 2026
Kamis, 15 Januari 2026
Minggu, 08 Maret 2026
Sabtu, 21 Februari 2026
Kamis, 19 Februari 2026









