Skema beasiswa ini terutama akan menyasar warga setempat di lokasi pabrik gula.

Skema ‘Link and Match’ Kurikulum Pergulaan Digodok Kementan dan Gapgindo

Sabtu, 30 Desember 2023, 10:57 WIB

Pembahasan skema beasiswa antara Gapgindo dan lembaga pendidikan di bawah Kementan, Jumat (28/12/2023). | Sumber Foto:Dok. Gaapgindo

AGRONET – Skema kurikulum link and match industri pergulaan terus digodok Kementerian Pertanian melalui Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) dan Gabungan Produsen Gula Indonesia (Gapgindo). Kedua pihak bersinergi untuk menyiapkan kurikulum untuk menciptakan sumber daya manusia (SDM) yang kompenten di bidang perkebunan tebu dan insdustri gula.

“Sinergi ini merupakan salah satu langkah konkret yang menunjukkan keseriusan stakeholder pergulaan nasional untuk secara bertahap mewujudkan kembali kemandirian gula Nusantara,” kata Ketua Umum Gapgindo Syukur Iwantoro kepada Agronet, usai pembahasan di Politeknik Enjiniring Pertanian Indonesia (PEPI), Jumat (28/12/2023).

Program beasiswa ini adalah kelanjutan dari program Kementan yang telah berjalan. Namun, skema kali ini dikhususkan pada kurikulum untuk memenuhi kebutuhan industri pergulaan. Mereka berharap, skema ini akan mulai berlaku mulai tahun ajaran 2024/2025. 

Skema beasiswa ini terutama akan menyasar warga setempat di lokasi pabrik gula yang menjadi anggota Gapgindo. Saat ini pabrik gula yang bernaung di bawah Gapgindo berada di Sumatra Selatan, Jawa, dan Nusa Tenggara Timur.

Para penerima beasiswa akan mendapat pendidikan vokasi pergulaan di pusat pendidikan dan politeknik yang dikelola Kementan. Setelah lulus, anak didik akan langsung bekerja di pabrik gula terkait untuk menjalani ikatan dinas.

Pihak yang terkait kerja sama ini akan menyusun kurikulum yang sesuai lahan di lokasi pabrik-pabrik Gapgindo. Pusdiktan, PEPI, Polbangtan Bogor, dan Polbangtan Malang bekerja sama dengan PT Muria Sumba Manis yang berada di Waingapu, Sumba, NTT. Mereka akan menyusun kurikulum untuk tanaman tebu di lahan berbatu.

Di Jawa, terdapat PT Rejoso Manis Indo, PT Kebun Tebu Mas, PT Rajawali I, dan PT Kebon Agung. Mereka bekerja sama dengan Pusdiktan, Polbangtan Malang, PEPI, dan Polbangtan Bogor untuk menyiapkan kurikulum khusus untuk tanaman tebu di lahan kering.

Sedangkan di Ogan Komering Ilir (OKI), Sumsel, terdapat PT Pratama Nusantara Sakti yang berada di lahan rawa. Perusahaan ini berkerja sama dengan Pusdiktan, Polbangtan Medan, SMKPPN Sembawa, Polbangtan Bogor, PEPI, dan Badan Standardisasi Instrumen Pertanian (BSIP) Mektan (tim UPT) untuk menyusun kurikulum tanaman tebu di lahan rawa.

Menurut Syukur, SDM di bidang pergulaan yang profesional dan kompeten memang masih langka. Hal ini dirasakan baik kegiatan on farm dan off farm. Ia mengakui, salah satu alasannya adalah industri gula mengoperasikan teknologi yang spesifik.

“Skema beasiswa ini adalah upaya Gapgindo untuk mencari solusi bagi kelangkaan SDM pergulaan,” kata Syukur.  

Sebelumnya, Gapgindo juga berupaya mengatasi tantangan lain seperti soal ketersediaan bibit/benih tebu yang unggul dan keterbatasan teknologi dan alat mesin pertanian (alsintan) tebu yang sesuai kondisi lahan spesifik.

Syukur mencontohkan dua anggota Gapgindo yang saat ini mengelola lahan yang berbeda dari lahan tebu di Jawa. “Ada PT Muria Sumba Manis di lahan berbatu di Sumba, dan PT Nusantara Pratama Sakti di lahan rawa,” katanya. 

Lebih lanjut, Gapgindo juga menyadari bahwa keterbatasan permodalan menjadi salah satu tantangan mitra-mitra petani yang bekerja sama dengan pabrik gula, terutama di Jawa. Gapgindo juga mendorong skema kemitraan sehingga pabrik gula juga dapat membantu meningkatkan kesejahteraan para petani di lingkungan pabrik. (yen).