Dedi berharap, MoU ini dapat dicontoh pada komoditas lain.

MoU antara Gapgindo dan Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) di bawah Kementerian Pertanian (Kementan), Kamis (14/12) | Sumber Foto:Agronet/Rostiyani
AGRONET – Gabungan Produsen Gula Indonesia (Gapgindo) dan Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) di bawah Kementerian Pertanian (Kementan) meneken Memorandum of Understanding (MoU), Kamis (14/12/2023). Kepala BPPSDMP Profesor Ir Dedi Nursyamsi, M.Agr menyebut MoU ini adalah model ideal yang dapat diterapkan juga pada komoditas lain.
“Model MoU ini ideal seperti yang kita cita-citakan sejak lama untuk menciptakan quality job seeker. Jadi sumber daya manusia (SDM) yang dihasilkan bisa langsung diserap karena benar-benar diperlukan oleh pelaku usaha industri gula,” ujar Dedi.
MoU ini mewujudkan link and match antara lembaga pendidikan vokasi lingkup Kementan dan pabrik gula berbasis tebu yang menjadi anggota Gapgindo. Ini juga meretas upaya penyediaan SDM yang profesional dan kompeten di perkebunan tebu dan industri gula, melalui pendidikan vokasi.

Dedi berharap, model sinergi ini dapat dilakukan juga di tempat lain pada komoditas-komoditas lain. “Kita bisa bersama-sama menyusun kurikulum dan siswa juga bisa magang. Jika ini terwujud, berarti tujuan pendidikan vokasi Kementan bisa tercapai 100 persen” ujar peraih gelar master dari Graduate School of Agriculture, Hokkaido University, Jepang.
Menurut Dedi, industri gula penting karena termasuk daftar sembilan kebutuhan pokok. Kenaikan harga gula bahkan mampu mendongkrak inflasi. “Makanya, gula menjadi komoditas strategis untuk swasembada,” kata Dedi menambahkan.
Sementara Ketua Umum Gapgindo Syukur Iwantoro mengatakan, MoU ini dapat menjadi solusi atas krisis SDM industri pergulaan, baik on farm maupun off farm. Menurutnya, kebutuhan SDM berkualitas menjadi salah satu tantangan yang dirasakan pabrik gula anggota Gapgindo.
“Kami beranggotakan sembilan pabrik gula yang lokasinya di tempat yang remote, jauh dari rumah-rumah penduduk. Ada pabrik yang berada di lahan rawa dan tanah berbatu, karena dulu didirikan dengan tujuan agar lahan tebu tidak bersaing dengan padi dan jagung,” kata Syukur.
Minimnya SDM lokal membuat industri menarik SDM yang dibutuhkan direkrut berasal dari daerah lain. Namun, banyak di antara mereka yang tidak bertahan di lokasi pabrik yang terpencil.
“Pada sisi lain, Pemerintah Daerah berharap, kami menyerap tenaga kerja lokal. Dengan MoU ini, kami berharap bisa lebih efektif menarik SDM warga setempat yang juga memenuhi kebutuhan industri kami. Warga lokal tentu lebih mengenal daerah mereka sendiri, sehingga bisa betah dan bertahan bekerja di sana,” ujar Syukur.
Menurutnya, sekolah vokasi Kementan menjadi pilihan Gapgindo karena sejumlah alasan. Salah satunya, Gapgindo merasa ada kedekatan dan rasa memiliki terhadap sekolah yang dimiliki Kementan. Berikutnya, MoU ini akan ditindaklanjuti yaitu kerja sama teknis dengan sekolah vokasi yang lokasinya terdekat dengan pabrik gula.
Sementara Dedi menimpali, langkah MoU ini sudah berada di jalur benar untuk mengembangkan SDM. “Bisa jadi nanti akan semakin banyak pabrik gula yang bergabung dengan Gapgindo dan kerja sama ini semakin luas. Maka cita-sita swasembada gula bisa semakin cepat menggelinding,” katanya.
Disambut pelaku industri
Kesulitan mendapatkan SDM yang mumpuni di industri gula diakui para pelaku industri. Direktur Pendukung Bisnis PT Pratama Nusantara Sakti Isman Hariyanto mengatakan, perusahaannya yang berada di Ogan Komering Ilir (OKI) masih harus mendatangkan SDM dari Jawa dan Nias.
“Kami berharap, jika kami memiliki SDM setempat, tentu mereka akan lebih memahami daerahnya,” ujar Isman, yang berharap SDM lokal akan lebih betah dan dapat bertahan bekerja di lokasi pabrik.
Pada saat normal, PT PNS membutuhkan SDM sekitar 750 orang. Sedangkan pada musim sibuk, SDM yang dibutuhkan perusahaan bahkan dapat mencapai tiga ribu orang.
Hal senada diungkap Direktur III PT Muria Sumba Manis Agung Santoso. Pabrik gula yang berada di Sumba Timur masih harus mendatangkan SDM dari Jawa.
Menurutnya, kerja sama PT MSM dengan lembaga pendidikan masih belum maksimal. Ia berharap, MoU ini bisa menjadi jawaban atas kebutuhan SDM lokal yang mumpuni.
“Karena umumnya SDM dari daerah lain lebih memilih bekerja di perkotaan daripada di Sumba,” ujarnya.
Tantangan SDM juga diakui Manajer Human Resources PT Rejoso Manis Indo (RMI), Alwin Farnas. Meski berada di Jawa, PT RMI berada di daerah terpencil dan kering seperti Blitar selatan.
“Kami yang berada di Jawa pun kesulitan mendapatkan SDM yang sesuai standar, sementara pemerintah setempat mengharapkan kami lebih banyak merekrut SDM lokal,” kata Alwin.
Ia berharap, MoU ini menjadi jawaban atas kebutuhan SDM perusahaannya. “Sehingga putra daerah bisa berkarir dan mengembangkan daerahnya," kata Alwin.
Sambutan juga datang dari Komisaris Utama PT RMI Albert Yusuf Tobogu. Menurutnya, perusahaannya sudah bermitra dengan PT Mitr Phol dari Thailand, salah satu perusahaan gula terbesar di Asia.
“Mungkin nanti perusahaan bisa berbagi pengetahuan, misalnya siswa dan pengajar bisa saja studi ke PT Mitr Phol,” kata Albert. (yen)
Sabtu, 24 Januari 2026
Sabtu, 17 Januari 2026
Selasa, 13 Januari 2026
Kamis, 19 Februari 2026
Sabtu, 24 Januari 2026
Kamis, 22 Januari 2026
Minggu, 18 Januari 2026
Kamis, 15 Januari 2026
Minggu, 08 Maret 2026
Sabtu, 21 Februari 2026
Kamis, 19 Februari 2026









