Tantangan yang ada kerap mengakibatkan biaya tinggi yang harus ditanggung investor.

Sambangi Kementan, Gapgindo Bahas Tantangan Industri Gula

Sabtu, 25 November 2023, 10:09 WIB

Pertemuan Gapgindo dan pejabat Kementerian Pertanian. | Sumber Foto:Dok. Istimewa

AGRONET – Ketua Umum Gabungan Produsen Gula Indonesia (Gapgindo) Syukur Iwantoro menyambangi Kementerian Pertanian (Kementan), pekan lalu. Ia bertemu Staf Khusus Menteri Pertanian (Mentan) Dr Sam Rohedian dan Tenaga Ahli Mentan Bidang Pengembangan Pertanian Presisi, Dr Desrial. Mereka membahas aneka isu terkait industri gula di Indonesia.

Syukur mengingatkan, kebijakan Presiden Joko Widodo pada awal periode pertama kepemimpinannya cukup agresif untuk menggalang masuknya para investor dalam maupun luar negeri. Para investor diundang untuk membangun pabrik gula modern berbasis tebu di Indonesia.

“Hal ini mendapat respons positif dunia usaha, setidaknya saat ini sudah ada sembilan pabrik gula baru maupun yang direvitalisasi sehingga dalam operasionalnya sudah menggunakan mesin-mesin terbaru,” ujar Syukur.

Namun, Syukur juga mengingatkan bahwa hasil yang diharapkan saat ini masih belum karena ada dinamika di lapangan. Apalagi, saat ini Indonesia kian tergantung pada impor gula sementara badai harga gula global tak kunjung reda. Ia mendorong semua pemangku kepentingan untuk lebih secara serius menata ulang kebijakan pergulaan nasional. 

“Kita mengakui bahwa memang ada tantangan yang harus dihadapi dengan sabar dan ulet,” ujar Syukur.

Ia menyebutkan, tantangan itu kerap mengakibatkan biaya tinggi yang harus ditanggung investor. Di antara tantangan itu adalah dinamika sosial, infrastruktur jalan dan jembatan yang tidak memadai, proses perizinan, serta keterbatasan skill dan modal calon petani mitra industri gula.

Menurut Syukur, para mitra petani juga harus menguasai pengolahan lahan dan penanganan budidaya tanaman tebu yang benar. Tantangan lain yang tak kalah pentingnya, kata Syukur, adalah tidak adanya alat dan mesin pertanian (alsintan) untuk pengelolaan tanaman dan panen tebu.

Staf Khusus Mentan Dr Sam Rohedian, mengakui perlunya terobosan terkait alsintan dan tantangan-tantangan lainnya yang dihadapi para pelaku industri. “Tujuannya, agar mereka tetap semangat dan berproduksi sesuai kapasitas maksimal mereka,” ujar Sam.

Dinamika lainnya adalah kebutuhan akan skema permodalan yang cocok dengan para petani tebu yang menjadi mitra industri gula. Apalagi saat ini ada sentra tanaman tebu seperti di OKI dan Sumba Timur yang menarik minat petani setempat untuk menanam tebu.

 

Kebutuhan alsintan spesifik

Pabrik-pabrik gula baru yang ada di Indonesia pada umumnya di bangun di daerah terpencil, baik di Jawa maupun di luar Jawa. Syukur menyebutkan, kondisi dan lokasi pabrik gula saat ini sangat heterogen dan membutuhkan alsintan yang spesifik sesuai dengan kondisi wilayah masing-masing.

“Saat ini kami sulit memenuhi kebutuhan alsintan untuk penanaman, pemupukan, maupun kegiatan panen tebu yg spesifik lokasi setempat. Alsintan itu bahkan sulit ditemukan di negara lain,” ujar Syukur.

Ia mencontohkan, di Jawa butuh alsintan yang bisa beroperasi di lahan sempit dengan batasan galengan. Untuk Blitar, Malang, Lamongan dan Madiun misalnya, dibutuhkan alsintan yang sesuai kondisi lahan kering ekstrem dan berbukit. Jika tantangan dapat diatasi, Syukur optimistis bahwa industri gula di lokasi tersebut bisa meningkatkan produksi dan produktivitas 80 persen hingga 100 persen.

Sedangkan lahan tebu di Ogan Komering Ilir (OKI) membutuhkan alsintan yang bisa digunakan di lahan rawa. Sementara lahan di Sumba Timur membutuhkan alsintan yang sesuai dengan kondisi tanah berbatu.

Tenaga Ahli Mentan Bidang Pengembangan Pertanian Presisi, Dr Desrial mengakui pentingnya alsintan yang spesifik lokasi. Untuk itu, perlu dana riset untuk pengembangan alsintan tebu yg baru ataupun modifikasi dari yang sudah ada.

“Namun, untuk tebu belum ada host dana risetnya. Maka kita perlu cari solusi bagaimana menghubungkan antara lembaga riset alsintan dan persatuan produsen gula agar terjalin sinergi,” kata Desrial.

Menurutnya, dana riset memang cukup mahal. Sementara Kementan sekarang sudah tidak lagi berfungsi untuk melakukan riset.

Sementara Syukur meyakini, perguruan tinggi dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bisa memimpin upaya sinergi dengan Kementan. Sinergi itu untuk menghasilkan alsintan purwarupa dan di sisi lain, industri juga siap memproduksi perbanyakannya.

“Revitalisasi alsintan untuk tebu sudah sangat mendesak,” kata Syukur.

Namun, Syukur tetap optimistis bahwa dengan memprioritaskan penyelesaian tantangan yang ada,  swasembada gula konsumsi berkelanjutan bisa dicapai pada 2025. “Kami pabrik baru dan pabrik yang sudah melakukan revitalisasi siap menjadi motor penggeraknya,” kata dia. (yen)