Pelemahan harga minyak mentah menekan harga etanol sehingga mendorong pabrik-pabrik gula mengurangi jatah untuk memproduksi untuk etanol,.

Proses produksi etanol. | Sumber Foto:Sweeter Alternative
AGRONET -- Harga gula pekan ini kembali merangkak dari posisi terendah dalam lima pekan dan ditutup sedikit lebih tinggi. Dikutip dari Bachart, aksi jual muncul pada kontrak berjangka terjadi setelah Rural Clima Meteorlogia mengatakan daerah-daerah penghasil tebu di Brasil akan sering menerima hujan sampai Oktober. Hal ini memicu kekhawatiran hujan lebat akan memperlambat laju penggilingan tebu dan mengurangi produksi gula.
Pelemahan mata uang real Brazil menaikan harga gula setelah nilai real terhadap dolar AS jatuh ke level terendah dalam 6 bulan terakhir. Real yang lebih lemah mendorong produsen gula Brasil mengekspor produknya.
Harga minyak mentah anjlok lebih dari 5 persen ke level terendah dalam lima pekan. Pelemahan harga minyak mentah menekan harga etanol dan dapat mendorong pabrik-pabrik gula di seluruh dunia mmengurangi jatah untuk memproduksi etanol, sehingga meningkatkan suplai gula.
Selama satu pekan terakhir gula berada di bawah tekanan di tengah tanda-tanda peningkatan produksi di Brasil. Selasa lalu, Unica melaporkan produksi gula Brasil di wilayah selatan-tengah yang merupakan daerah penghasil gula di negara itu naik 8,5 persen year-on-year pada paruh pertama bulan September menjadi 3,116 juta metrik ton.
Produksi pada tahun panen 2023/24 hingga pertengahan September naik 18,7 persen y/y menjadi 29,258 juta metrik ton. Selain itu tebu yang diolah menjadi gula naik menjadi, 49,37 persen dari tahun lalu yang sebanyak 45,47 persen.
Selama sebulan terakhir, harga gula meningkat tajam, harga gula New York pada tanggal 19 September membukukan harga tertinggi dalam 12 tahun terakhir dan gula London pada tanggal 14 September membukukan harga tertinggi dalam 12 tahun terakhir.
Kenaikan disebabkan kekhawatiran akan turunnya produksi gula global. Pada tanggal 5 September lalu perusahaan perdagangan gula terbesar di dunia, Alvean memperkirakan pada tahun 2023/2024 dunia akan mengalami defisit gula 5,4 juta metrik ton. Alasannya, India mungkin membatasi ekspor gula dan petani Thailand lebih menanam singkong yang lebih menguntungkan daripada tebu. (tar)
Sabtu, 24 Januari 2026
Sabtu, 17 Januari 2026
Selasa, 13 Januari 2026
Kamis, 19 Februari 2026
Sabtu, 24 Januari 2026
Kamis, 22 Januari 2026
Minggu, 18 Januari 2026
Kamis, 15 Januari 2026
Minggu, 08 Maret 2026
Sabtu, 21 Februari 2026
Kamis, 19 Februari 2026









