Kenaikan harga gula memukul keras beberapa negara termiskin di Afrika.

Benua Ini Sangat Rentan akan Kenaikan Harga Gula Dunia

Rabu, 04 Oktober 2023, 08:22 WIB

Warga Afrika kini mengurangi penggunaan bahan baku yang langka saat memasak.

AGRONET -- Kenaikan harga gula memukul keras beberapa negara termiskin di Afrika. Krisis ini memaksa keluarga dan restoran di negara-negara itu tidak menggunakan bahan makanan yang merupakan inti dari makanan lokal.

Hasil panen yang mengecewakan beberapa produsen terbesar di dunia mendorong harga grosir di bulan September mendekati harga tertinggi dalam lebih dari 12 tahun terakhir. Meskipun kenaikan harga gula menambah tekanan inflasi di seluruh dunia, negara-negara Afrika sangat rentan.

Pasalnya tidak hanya karena negara-negara Afrika tergantung pada gula impor, banyak negara di benua itu yang kekurangan dolar AS. Lembaga riset komoditas yang berbasis di Nairobi, Kulea mengatakan Konsumen di Rwanda, Uganda, Kenya dan Tanzania terpaksa membayar harga gula tertinggi dalam beberapa dekade terakhir. Karena harga-harga energi dan angka pengangguran juga naik, lonjakan harga kebutuhan sehari-hari memaksa keluarga-keluarga mencoba memenuhi kebutuhan hidup mereka.

"Rasa sakit akibat kenaikan harga-harga tidak dirasakan secara merata di seluruh wilayah - hal ini terutama dirasakan oleh negara-negara miskin," kata kepala riset Kulea, Willis Agwingi seperti dikutip dari Bloomberg, Senin (2/10/2023).

Gula merupakan bagian penting dari makanan lokal, dan juga digunakan untuk membuat kue-kue dan makanan manis yang dikonsumsi selama hari raya Islam. Bagi banyak rumah tangga di Afrika, "gula tetap menjadi salah satu sumber kalori yang paling terjangkau," menurut , kepala riset komoditas di ED&F Man, Kona Haque.

Agwingi mengatakan lonjakan harga memaksa konsumen mengurangi pembelian minuman ringan dan tidak lagi menggunakan gula yang biasanya ditambahkan ke dalam chai dan minuman lainnya. Perusahaan-perusahaan juga mengurangi pembelian karena permintaan yang lesu.

"Sudah hampir tiga bulan saya tidak membeli gula untuk sarapan. Kami sekarang mengonsumsi nasi di pagi hari karena harga gula dapat digunakan untuk membeli bumbu-bumbu lainnya," kata Fatoumata Conde, seorang ibu di Guinea yang biasa menambahkan gula ke dalam bubur beras dan kopi.

Biaya pembuatan puff puff - camilan populer di Afrika Barat yang terbuat dari adonan yang digoreng - juga melonjak, sehingga mendorong beberapa pedagang mengurangi jumlah gula yang ditambahkan ke dalam camilan kenyal tersebut. Sebuah restoran di Kamerun beralih menyajikan teh dan kopi dengan madu untuk mengurangi biaya. Data Green Pool Commodity Specialists menunjukan impor gula mentah di empat negara pengimpor tertinggi di Afrika yakni Nigeria, Aljazair, Maroko, dan Mesir turun 1 persen selama delapan bulan hingga Agustus dibandingkan dengan tahun lalu, dan turun 8 persen dari tingkat tahun 2021.

Para pedagang komoditas biasanya melihat Afrika sebagai pendorong utama permintaan gula. Afrika memiliki tingkat pertumbuhan populasi tertinggi di antara wilayah-wilayah besar lainnya, dan pangsa rumah tangga berpenghasilan menengah meningkat. Namun, hanya lima negara yang mampu memproduksi gula dalam jumlah yang cukup untuk memenuhi permintaan, sehingga menjadikannya tujuan ekspor yang menarik bagi produsen lain.

Harga gula bervariasi di setiap negara, tergantung pada kapasitas pemurnian dan jenis gula yang diimpor. Beberapa negara lebih rentan terhadap perubahan harga dibandingkan negara lainnya.

Sebagai contoh, negara-negara Afrika Utara seperti Aljazair dan Maroko biasanya mengonsumsi lebih banyak gula putih, dan memiliki lebih banyak pabrik pemurnian dibandingkan dengan negara-negara lain di benua tersebut. Sehingga mereka dapat mengimpor gula mentah yang lebih murah dalam jumlah besar dan memurnikannya di dalam negeri. Wilayah Sub-Sahara umumnya mengimpor gula merah dan gula putih berkualitas rendah, yang dikirim dengan harga yang lebih mahal daripada gula curah.

Pemerintah di seluruh benua ini bergegas memberikan dukungan. Para pembuat kebijakan di Kenya membuka peluang bebas bea untuk mengimpor gula guna menutupi kekurangan pasokan dan menurunkan harga.

Pantai Gading membatasi ekspor gula hingga akhir Desember untuk memastikan pasokan domestik. Para pejabat Uganda juga menghadapi tekanan dari para produsen untuk menurunkan bea masuk.

Masalah-masalah ini diperburuk dua hal yaitu penguatan dolar dan kekurangan mata uang itu yang digunakan untuk menentukan harga sebagian besar bahan mentah termasuk gula. Haque mengatakan hal ini mengurangi kemampuan beberapa negara untuk meningkatkan impor.

"Sebagian besar negara menggunakan cadangan dolar mereka untuk membeli biji-bijian dan pupuk ketika harga-harga tinggi setelah invasi Rusia di Ukraina," kata Haque. "Sekarang, beberapa negara sedang berjuang untuk menaikan impor gula dan mengurangi stok tetapi mereka harus mengisinya kembali suatu saat nanti," tambahnya. (tar)