Menyusutnya sektor bit gula dapat berdampak pada tanaman pokok lainnya.

Ladang bit gula di Prancis | Sumber Foto:Cropshot-Flickr
AGRONET -- Peraturan lingkungan Uni Eropa dianggap berbenturan dengan upaya blok itu dalam menahan inflasi dan mengamankan pasokan pangan. Langkah petani gula bit Eropa tidak lagi menanam tanaman itu dapat menaikan harga gula lebih tinggi lagi.
Petani berpaling dari gula bit setelah pada Januari pengadilan tinggi Uni Eropa memutuskan petani tidak dapat pengecualian larangan penggunaan neonik, insektisida yang digunakan untuk melindungi virus kuning pada gula bit. Sebab bahan kimia itu beracun bagi lebah dan penyerbuk lainnya yang sangat penting bagi produksi pangan.
Keputusan yang menurut Uni Eropa dan kelompok lingkungan itu penting untuk melindungi penyerbuk yang kini hampir punah. Tapi menurut petani keputusan ini juga mengurangi lahan pertanian yang digunakan untuk menanam gula bit.
"(Tahun ini) di daerah kami, kami kehilangan 15 persen lahan (gula bit)," kata petani yang memiliki 240 hektar lain di Prancis, Alexandre Pele, yang dikutip Reuters, Ahad (24/9/2023).
"Saya kesulitan memenuhi volume yang sudah dijanjikan pada pabrik gula karena lahan saya menurun karena larangan neonicotinoid," tambah Pele.
Uni Eropa merupakan produsen gula terbesar di dunia sehingga berkurangnya produksi dari blok itu dapat berdampak pada kenaikan harga gula dunia. Di sisi lain Uni Eropa juga berusaha untuk menurunkan inflasi pangan.
"Kami memasuki paradigma gula yang baru, harga murah sudah masa lalu, persediaan dunia menipis, permintaan naik dan pasokan di seluruh dunia rentan karena perubahan iklim, ini karena di mana-mana kesulitan untuk memperluas produksi, setidaknya di Eropa," kata salah satu pakar dari perusahaan dagang gula.
Harga gula di Eropa sudah mencapai titik tertingginya, hampir dua kali lipat dari harga dua tahun yang lalu. Salah satu faktornya meningkatnya ketergantungan pada impor yang mahal karena sektor gula lokal menyusut.
Komisi Eropa memprediksi pada musim ini impor gula blok itu naik 60 persen. Uni Eropa mengandalkan gula impor, yang sebagian besar kena bea cukai. Blok itu mengimpor sekitar 15 persen kebutuhan gulanya.
Pada tahun 2018 Eropa sudah melarang penggunaan neonicotinoid pada tanaman yang tidak berbunga seperti bit gula. Tetapi setelah serangan virus kuning pada tahun 2020 menghancurkan hasil panen di Prancis dan Inggris, negara-negara anggota Uni Eropa memberikan pengecualian sementara.
Sejak keputusan pengadilan bulan Januari yang melarang pengecualian, lahan yang dikhususkan untuk menanam bit gula di Prancis, penanam gula terbesar di Uni Eropa, mencapai titik terendah dalam 14 tahun terakhir.
Komisi Eropa mengatakan mereka memperkirakan seluruh lahan bit Uni Eropa akan turun sekitar 3 persen di bawah rata-rata lima tahun karena keputusan tersebut. Data Uni Eropa menunjukkan luas lahan bit Uni Eropa turun 17 persen sejak keputusan neonics tahun 2018.
Penurunan lahan tersebut menyebabkan produsen gula terbesar kedua di dunia, Tereos, menutup pabriknya di Prancis utara tahun ini, dan kehilangan 123 pegawai. Pada saat itu Tereos mengatakan mereka memperkirakan akan menerima 10 persen lebih sedikit bit dari petani.
Petani Prancis, Pele, mengatakan ia belum mengurangi panen bit gulanya karena investasi yang ia lakukan. Namun hasil panen dari salah satu lahannya turun 45 persen tahun ini.
Satu dari 10 spesies lebah dan kupu-kupu, yang sangat penting untuk menjaga keanekaragaman hayati, saat ini terancam punah, dan kelompok-kelompok lingkungan bersama dengan Uni Eropa menyalahkan neonika.
"Bahaya neonik terhadap penyerbuk tidak dapat disangkal. Mereka adalah pestisida yang paling banyak dipelajari dalam sejarah manusia, dan kami tahu betul bagaimana cara kerjanya," kata direktur ilmiah di Beelife, organisasi nirlaba yang berbasis di Brussels, Noa Simon Delso.
Beberapa produsen benih, termasuk KWS Saat dari Jerman sedang mengembangkan varietas bit gula baru yang secara alami tahan terhadap virus kuning. Namun para petani mengatakan varietas tersebut mungkin baru akan tersedia pada 2027. Pada saat itu, mereka yang sudah meninggalkan sektor ini dan menjual peralatan yang mahal mungkin enggan untuk kembali.
"Konsumen harus menghargai jika lebih banyak batasan yang diberlakukan pada pertanian, untuk alasan yang baik atau tidak, biaya produksi akan meningkat sampai kita menemukan metode lain untuk membudidayakan makanan ini," kata petani yang mengelola seluas 7.000 hektar di timur Inggris, Andrew Blenkiron.
Berkat Brexit, Inggris dapat menggunakan neonik tahun ini. Ia mengatakan ia akan beralih dari bit jika ia tidak dapat melindungi tanamannya.
"Ini adalah sebuah dilema, memproduksi makanan dengan harga yang efektif dan tetap memastikan kami memiliki perlindungan lingkungan yang baik," tambahnya.
Menyusutnya sektor bit gula dapat berdampak pada tanaman pokok lainnya karena petani perlu menanam tanaman alternatif seperti bit gula atau biji minyak di ladang gandum, jelai, dan jagung mereka setiap dua tahun sekali untuk menjaga kesehatan tanah.
Biji minyak adalah salah satu tanaman pertama yang menjadi sasaran larangan tersebut pada akhir tahun 2013, dan sejak saat itu produksi biji rapa turun 12 persen.
"Jika saya kehilangan tanaman seperti bit gula, itu adalah masalah agronomi (rotasi tanaman), tetapi juga, karena ancaman cuaca saat ini sangat beragam, memiliki sejumlah tanaman memungkinkan saya untuk mengelola risiko dengan lebih baik," ujar Pele.
"Jika saya tidak lagi memiliki bit gula, itu akan menjadi kerugian besar," katanya. (tar)
Sabtu, 24 Januari 2026
Sabtu, 17 Januari 2026
Selasa, 13 Januari 2026
Sabtu, 24 Januari 2026
Kamis, 22 Januari 2026
Minggu, 18 Januari 2026
Kamis, 15 Januari 2026
Selasa, 13 Januari 2026
Jumat, 23 Januari 2026
Jumat, 23 Januari 2026
Rabu, 21 Januari 2026










