Berkat jagung sebagai alternatif bahan baku etanol, tebu lebih banyak dipakai untuk memproduksi gula.

Jagung Selamatkan Dunia dari Krisis Pasokan Gula

Senin, 25 September 2023, 09:32 WIB

Jagung | Sumber Foto:Pxhere

AGRONET -- Krisis gula global yang mendorong harga gula ke level tertinggi dalam 11 tahun terakhir akhirnya mereda. Penurunan ini kemungkinan berkat panen jagung di Brasil.

Produksi jagung di pusat pertanian Brasil melonjak, sehingga lebih menguntungkan untuk menggunakan jagung untuk memproduksi etanol - bahan bakar utama yang menggerakkan mobil-mobil di negara dengan ekonomi terbesar di Amerika Latin ini - daripada tebu. Akibatnya, pabrik-pabrik tebu Brasil ingin memproduksi lebih banyak gula dan lebih sedikit biofuel.

"Siapa pun yang memiliki uang saat ini sedang berinvestasi di etanol (berbahan dasar) jagung, atau menambah kapasitas untuk memproduksi gula," kata pengamat komoditas di Green Pool Commodity Specialists, Eder Vieito seperti dikutipĀ Bloomberg, Sabtu (23/9/2023).

Turunnya harga gula akan meringankan beban konsumen yang berjuang melawan inflasi makanan. Pada Juli lalu indeks harga-harga komoditas pertanian membukukan kenaikan terbesarnya dalam 16 bulan terakhir, sebelum sedikit melemah di bulan Agustus. Cuaca ekstrim telah merusak tebu di India, produsen gula terbesar kedua di dunia setelah Brazil.

Jagung mengambil pangsa pasar etanol yang lebih besar di Brasil, yang hanya mengungguli Amerika Serikat di antara para produsen biofuel global. Perusahaan konsultan pertanian Datagro memprediksi etanol dari jagung akan mencapai hampir seperlima dari seluruh produksi bahan bakar pada musim ini, dari yang sebelumnya hampir nol pada lima tahun yang lalu. Pada tahun 2033, pangsa pasarnya dapat meningkat hingga sepertiga dari total pasokan.

"Ekspansi biofuel sebagian besar akan berasal dari jagung," kata perencanaan strategis di perusahaan etanol Cerradinho Bioenergia SA Renato Pretti.

Cerradinho Bioenergia SA yang menggunakan jagung dan tebu sebagai bahan baku bahan bakar, salah satu dari semakin banyak pabrik yang mengalihkan lebih banyak tebu untuk memproduksi gula dan berinvestasi pada mesin-mesin gula yang baru.

Naiknya produksi jagung di Brasil membuat etanol lebih menguntungkan karena penjualan produk sampingan seperti pakan ternak sebagian besar menutupi biaya biji-bijian. Sebaliknya, pabrik-pabrik tebu baru-baru ini mengalami penyusutan margin dari produksi etanol.

Dalam laporannya para analis dari bank BTG Pactual mengatakan biaya produksi dari etanol dari jagung 16 persen lebih rendah dibandingkan dengan memproduksi bahan bakar nabati dari tebu selama dua tahun terakhir.

Namun Permintaan etanol menurun karena para pengemudi lebih memilih bensin yang lebih murah. Menurut analis dari perusahaan konsultansi FG/A Willian Hernandes, dalam jangka panjang harga bahan bakar nabati ini dapat turun hingga 65 persen hingga 68 persen dari harga bensin. Jika turun sampai 70 persen maka semakin banyak pengemudi yang beralih ke etanol tapi juga akan membatasi keuntungan pabrik dalam memproduksi bahan bakar nabati tersebut.

FG/A memperdiksi pabrik-pabrik tebu telah berencana menambah sekitar 2,5 juta ton kapasitas untuk memproduksi gula pada musim-musim mendatang. Kepala divisi gula untuk Amerika di Hedgepoint Global Markets Murilo Mello mengatakan pabrik-pabrik gula mungkin akan terus memaksimalkan memproduksinya setidaknya untuk dua musim lagi

Namun, hubungan politik yang mendalam dengan industri gula di Brasil pada akhirnya dapat membantu meningkatkan margin etanol. Pemerintahan presiden Lula da Silva mendukung rancangan undang-undang yang akan meningkatkan persentase etanol yang dicampur dengan bensin.

Etanol berbasis jagung juga menghadapi beberapa tantangan. Pabrik-pabrik yang menggunakan biji-bijian sebagian besar mengandalkan biomassa dari serpihan kayu sebagai sumber energi.

Namun pasokan kayu di Brasil semakin terbatas karena naiknya produksi pulp dan kertas. Pengamat dari Czapp, yang dimiliki perusahaan komoditas Czarnikow Group Ltd, Ana Zancaner mengatakan artinya insentif untuk meningkatkan pasokan etanol berbahan baku jagung akan lebih rendah dari yang sudah direncanakan.

Namun, konsensus yang ada adalah etanol jagung akan berkembang beberapa tahun lagi. Brasil memiliki delapan pabrik etanol jagung yang terus menambah kapasitasmnya sementara tujuh pabrik baru lainnya sedang dalam tahap pembangunan. Pasokan bahan bakunya juga melimpah: para analis memperkirakan Brasil akan mengonsumsi 13 juta ton jagung untuk etanol pada musim ini, sekitar sepersepuluh dari total pasokan.

Ini merupakan kabar baik bagi produsen jagung di negara bagian Mato Grosso yang merupakan produsen jagung terbesar. Ada potensi yang signifikan bagi biji-bijian untuk meraih pangsa pasar etanol yang lebih besar, menurut petani Zilto Donadello.

"Etanol jagung masih memiliki banyak peluang," kata Donadello. (tar)