Perang di Ukraina menyebabkan Eropa mengimpor gula dalam jumlah besar, sehingga dikhawatirkan terjadinya surplus.

Demi Stabilitas Gula, Petani Prancis Diminta Pertahankan Produksi Bit

Selasa, 12 September 2023, 14:55 WIB

Bit gula | Sumber Foto:Pxfuel

AGRONET -- Produsen gula Saint Louis Sucre milik perusahaan Suedzucker dari Jerman, meminta petani Prancis untuk tidak meningkatkan produksi bit mereka tahun depan. Ini cara untuk menjaga stabilitas harga di tengah persaingan yang ketat dengan gula Ukraina.

Kurangnya pasokan gula di Eropa mencapai rekor tertinggi, jauh melampaui kenaikan pasar global. Ini terutama terkait dengan penurunan produksi di Prancis di mana para petani terhambat akibat buruknya panen dalam beberapa tahun terakhir.

Namun, perang di Ukraina menyebabkan Eropa mengimpor gula dalam jumlah besar, sehingga meningkatkan kekhawatiran terjadinya surplus. Ini pernah terjadi pada tahun 2017 setelah Uni Eropa mencabut kuota produksi yang menyebabkan jatuhnya harga.

“Ambisi kami untuk meningkatkan luas lahan, ternyata terdapat persaingan dalam upaya solidaritas Uni Eropa dalam mendukung Ukraina,” kata Saint-Louis Sucre (SLS) dalam keterangan tertulis pekan lalu yang diunggah Reuters.

“Tujuan kami adalah untuk memastikan setiap ton gula yang diproduksi di Perancis dapat memenuhi permintaan dengan sempurna dan memiliki nilai terbaik di pasar Eropa untuk memberikan pendapatan terbaik dari bit,” kata SLS.

“Dalam konteks yang tidak terduga ini, kami mengandalkan Anda, para pengusaha perkebunan SLS, untuk mempertahankan tonase 2023 pada 2024,” tambah perusahaan tersebut.

Data Uni Eropa menunjukkan impor gula Ukraina ke Uni Eropa antara Oktober 2022 dan Juli 2023 naik menjadi 390.000 ton. Ini naik 25.000 ton dibandingkan periode yang sama pada musim sebelumnya.

Menanggapi permintaan komentar atas surat tersebut, juru bicara Suedzucker mengatakan, gula Ukraina yang berpotensi mengganggu pasar Uni Eropa harus diekspor kembali ke negara ketiga yang membutuhkan pangan.

Masa rotasi tanam

Petani Perancis sedang dalam proses memilih rotasi tanaman untuk musim depan, dengan penanaman lobak sudah berakhir dan gandum akan dimulai akhir bulan ini. Petani bit mengatakan, harga gula yang tinggi saat harga biji-bijian sedang anjlok dapat membuat petani lebih memilih bit dalam rotasi mereka. Luas lahan tanaman bit gula Prancis turun ke titik terendah dalam 14 tahun pada tahun ini.

Data Uni Eropa yang terbaru menunjukkan gula Eropa diperdagangkan pada 915 euro ($983,17) per ton pada Juli 2023. Naik 57 PERSEN dibandingkan tahun sebelumnya dan dua kali lipat harga yang tercatat pada Juli 2021.

“Kami harus berhati-hati agar tidak terjerumus ke dalam kondisi ekstrem yang berlawanan,” kata ketua serikat gula bit Perancis, CGB, Franck Sander.

Ia memperingatkan, bertambahnya luas lahan dapat membuat harga di Uni Eropa merosot. “Perubahan haluan bisa terjadi dengan sangat cepat, harga bisa turun 30 persen, terutama karena ada pasokan dalam jumlah besar di Ukraina,” katanya.

Pada 2019, Saint Louis Sucre (SLC) menutup dua pabrik sebagai bagian dari rencana restrukturisasi yang lebih luas di Suedzucker, perusahaan gula terbesar di Eropa. SLC masih memiliki dua pabrik di Prancis utara.

Produksi gula Uni Eropa diperkirakan akan meningkat pada tahun 2023/24 dibandingkan tahun sebelumnya, terutama karena panen yang lebih besar di Polandia dimana para petani, yang tertarik dengan harga yang lebih tinggi, telah meningkatkan luas areal tanam. (tar)