Sejarah Industri Gula Indonesia, Potret Tanam Paksa Masa Lalu

Selasa, 29 Agustus 2023, 09:39 WIB

Ilustrasi perkebunan tebu era kolonial di Hindia Barat. | Sumber Foto:Universal Magazine-Library of Congress

AGRONET -- Gula telah diproduksi di Indonesia selama berabad-abad, dengan catatan paling awal tentang penanaman gula dating kembali ke abad ke-10. Industri gula di Indonesia awalnya dikembangkan oleh petani kecil, yang menanam tebu dan mengolahnya menjadi gula menggunakan metode tradisional.

Pada abad ke-17, Perusahaan Hindia Timur Belanda (VOC) mulai tertarik pada industri gula Indonesia. VOC mendirikan sejumlah perkebunan gula di Jawa dan memperkenalkan metode produksi gula yang lebih canggih.

"Keberadaan pabrik gula di tanah Jawa dalam sejarahnya tidaklah lepas'dari kebijakan cultuurstelsel yang diterapkan Pemerintah Kolonial Hindia Belanda. Kesulitan keuangan akibat Perang Jawa (l825-1830) membuat Pemerintah Kolonial Hindia Belanda memberlakukan cutuurstelsel,atau sistemtanam paksa untuk mengisi kas mereka," tulis para peneliti Universitas Surabaya dalam jurnal artikel berjudul, Meningkatkan Daya Saing Pabrik Gula di Indonesia Era Masyarakat Ekonomi ASEAN.

Dalam artikel yang diterbitkan Jurnal Riset Ekonomi dan Manajemen pada 2016 itu, para peneliti mengatakan Gubernur Jenderal Johannes Van Den Bosch mewajibkan desa di Jawa menyisihkan 20 persen tanahnya untuk ditanami tanaman ekspor, seperti tebu, teh, dan kopi. Tebu terutama ditanam di sejumlah karesidenan, seperti Surabaya, Pasuruan, dan Besuki.

"Wilayah Jombang pada masa Hindia Belanda masuk Karesidenan Surabaya terletak di dataran rendah dengan tanah subur dari aliran Sungai Brantas banyak ditanami tebu dan sekaligus didirikan pabrik gula, seperti pabrik Gula Tjoekir yang dibangun tahun 1884," tulis para peneliti yang terdiri dari H. Ahmad Zafrullah Tayibnapis, Hj.Made Siti Sundari, dan Lucia Endang Wuryaningsih.

Industri gula menjadi sumber pendapatan utama bagi VOC. Saat itu, Indonesia menjadi salah satu penghasil gula terkemuka di dunia.

Pada abad ke-19, industri gula Indonesia terus berkembang. Pemerintah Belanda membangun sejumlah pabrik gula di Jawa, dan industri gula menjadi semakin mekanis. Indonesia tetap menjadi eksportir gula utama, dan gula menjadi makanan pokok dalam pola konsumsi Indonesia.

Pada abad ke-20, industri gula Indonesia menghadapi sejumlah tantangan. Great Depression atau Depresi Besar yang terjadi global tahun 1930-an menyebabkan harga gula menurun, dan industri ini semakin rusak oleh Perang Dunia II. Setelah kemerdekaan pada tahun 1949, pemerintah Indonesia mengambil alih industri gula dan mencoba untuk menghidupkannya kembali.

 

Tantangan dan peluang

Dalam beberapa dekade terakhir, industri gula Indonesia telah menghadapi sejumlah tantangan baru. Munculnya pemanis alternatif, seperti sirup jagung fruktosa tinggi, telah menyebabkan penurunan konsumsi gula di Indonesia. Industri gula juga telah terpengaruh oleh keputusan pemerintah untuk memberlakukan kuota impor gula.

Meskipun menghadapi tantangan ini, industri gula Indonesia tetap menjadi bagian penting dari perekonomian Indonesia. Pada tahun 2020, Indonesia menghasilkan 2,7 juta ton gula, menjadikannya produsen gula terbesar ke-12 di dunia. Industri ini mempekerjakan jutaan orang dan menjadi sumber pendapatan bagi banyak petani Indonesia.

Selain menghadapi sejumlah tantangan, tetapi industri gula Indonesia juga diuntungkan sejumlah peluang. Pemerintah saat ini sedang menerapkan sejumlah kebijakan yang bertujuan untuk menghidupkan kembali industri gula, dan ada permintaan yang meningkat untuk gula organik dan berkelanjutan di Indonesia.

Hanya waktu yang akan menentukan masa depan industri gula Indonesia. Namun, satu hal yang pasti: gula telah memainkan peran penting dalam sejarah dan ekonomi Indonesia, dan akan terus menjadi bagian penting dari masa depan Indonesia. (tar)