Sekitar 20-30 persen tanaman tebu saat ini tidak bisa dipanen karena kemarau panjang.

Kekeringan di ladang tebu | Sumber Foto:Pxhere
AGRONET -- Petani tebu Amerika Serikat (AS) mencemaskan hujan yang tidak kunjung datang ke negara itu. Panas akan menimbulkan pengaruh besar pada panen tebu di negara itu.
"Louisiana sedang disengat matahari saat ini, setiap hari ada tanda peringatan panas, dan warga kami merasakan terpukul sekarang," kata " kata operator Eddie Lewis Cane Farm LLC Eddie Lewis III, seperti dikutip KLFY, Minggu (20/8/2023).
Lewis mengatakan ia memiliki sepuluh pegawai yang bekerja di sekitar 40 hektare ladang tebu. Ia mengatakan, pegawai mulai bekerja sekitar pukul 3:30 pagi saat cuaca lebih sejuk dan ia berusaha agar semua orang tetap terhidrasi.
“Saya petani tebu generasi kelima. Selama lebih dari 100 tahun, keluarga saya telah menanam tebu, dan kami tidak pernah mengalami panas dan kekeringan sepanas ini, sekering ini. Jadi saat ini pasti berdampak pada pertanian Louisiana,” katanya.
“Saat ini, di Louisiana, tebu sedang sekarat, kemungkinan ada sekitar 20-30 persen tanaman tebu yang saat ini tidak bisa dipanen karena kemarau panjang. Yang sedang kita lihat, jika cuaca seperti ini selama dua, tiga minggu lagi, lebih dari 20 hingga 30 persen yang harus kami tinggalkan di ladang," ujarnya. Menurut Lewis, tanpa tebu di lahan sekitar 40 ribu hektare mungkin akan membuat Negara Bagian Louisiana kehilangan 20-30 juta dolar AS.
“Ini pasti berdampak pada tanaman, ini berdampak pada tenaga kerja dan petani karena kami sedang menanam semua tebu ini, dan jika kami tidak mendapat kelembapan, tebu tidak akan bisa tumbuh, dan tanaman yang kami miliki di lapangan akan mati. Kirim ke pabrik, panen itu akan pendek, ” katanya.
"Saya cukup yakin Louisiana akan mengumumkan keadaan darurat, dan kami mungkin membutuhkan sedikit bantuan," tambahnya.
Akuntan di LSU AG Center Blair Hebert mengatakan, kekeringan telah memperlambat pertumbuhan tebu pada tahap penting perkembangannya. “Yang kami sukai pada kondisi normal adalah ada pertumbuhan vegetatif, dan kemudian kami memasuki tahap pertumbuhan nonvegetatif saat gula dapat menyimpan semua sumber dayanya,” kata Hebert.
“Saat itulah tebu penuh dengan cairan, sehingga kami dapat membawa tebu itu ke penggilingan. Ketika itu kami dapat memulihkan tebu dalam jumlah yang sangat efisien.”
Hebert mengatakan situasi seperti ini belum pernah terjadi sebelumnya. “Sayangnya, saat kekeringan berkepanjangan, kami tidak memiliki banyak data historis di sini, di sabuk tebu di Louisiana selatan,” ujarnya. Padahal, jika ada data maka mereka bisa belajar dari pengalaman yang terjadi misalnya tahun 1990-an atau 1980-an.
“Banyak produsen merasa asing dengan kondisi saat ini,” tambahnya.
Hebert mengatakan, yang mereka coba lakukan adalah menggunakan alat sebanyak mungkin. Tetapi petani tebu Louisiana Selatan harus membuat beberapa keputusan sulit untuk mengelola segalanya menjelang panen.
Menurut Hebert, curah hujan di 24 wilayah penghasil hujan masih di bawah rata-rata. Ia mengatakan, di wilayah itulah petani harus membuat keputuan berat.
“Apa yang petani coba lakukan saat ini adalah mempersiapkan diri untuk skenario terburuk. Mereka harus membuat beberapa keputusan manajerial dan hanya berharap yang terbaik," katanya.
“Petani memahami benar bahwa mereka tidak dapat mengendalikan alam. Mereka harus hidup dengan keadaan yang diberikan alam kepada mereka,” tambahnya. “Baik berupa badai, salju, atau banjir.”
Menurutnya, para petani yakin bahwa tebu adalah tanaman yang sangat tahan banting. “Menurut saya, petani kita sangat ulet, dan mereka akan membuat beberapa keputusan manajemen. Industri ini akan bersatu dan bekerja sebagai sebuah tim,” kata Hebert. (tar)
Sabtu, 24 Januari 2026
Sabtu, 17 Januari 2026
Selasa, 13 Januari 2026
Kamis, 19 Februari 2026
Sabtu, 24 Januari 2026
Kamis, 22 Januari 2026
Minggu, 18 Januari 2026
Kamis, 15 Januari 2026
Minggu, 08 Maret 2026
Sabtu, 21 Februari 2026
Kamis, 19 Februari 2026









