Indonesia memiliki sejumlah keuntungan untuk memproduksi bioetanol dari tebu.
Panen tebu di Brasil | Sumber Foto:Mario Roberto Duran Ortiz-Wikimedia
AGRONET -- Menteri Investasi dan Kemartiman Republik Indonesia Luhut Binsar Panjaitan mengatakan Indonesia dan PT Pertamina ingin bekerja sama bidang penanaman tebu dengan Brasil. Rencana ini dibahas dalam kunjungannya ke Brasil beberapa waktu yang lalu. Hal terkait dengan rencana menambahkan bioetanol pada bensin.
"Harga di sana murah, jadi kalau bisa bawa ke sini mencakup 5 persen saja bensin kita, maka bisa menaikkan oktannya dari 91 menjadi 95, jadi itu membuat lingkungan juga lebih bersih," kata Luhut di akun resmi Instragram-nya, Jumat (18/8/2023).
"Kerja sama ini saya pikir Pertamina akan lakukan dengan mereka (Brasil). Mereka juga menawarkan penanaman tebu, ternyata, karena Ibu Siti (Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya Bakar, Red) juga ada," kata Luhut.
Luhut mengatakan industri tebu sudah ada di Indonesia, tapi kesulitan mencari lahan. Menurut Luhut, nanti akan ada kerja sama dengan Perhutani. "Tanah-tanah yang kurang diberdayakan, bisa ditemukan beberapa puluh ribu hektar di Jawa ini," katanya.
"Saya kira bila kita bisa yield (panennya) lima, enam, mereka (Brasil, Red) bisa bikin 12, saya kira ini hal yang hebat. Katakanlah bila sembilan atau sepuluh di kita, angka itu saya kira sudah sangat bagus sekali," katanya.
Pada akhir Juli lalu PT Pertamina (Persero) resmi meluncurkan produk bahan bakar minyak (BBM) terbaru, Pertamax Green RON 95 yang dijual seharga Rp 13.500 per liter. Produk yang diolah dengan campuran bahan baku terbarukan bioetanol ini diklaim sebagai bahan bakar hijau dan menjadi upaya untuk mengurangi impor minyak. Bahan baku bioetanol ini adalah tebu.
Pemerintah telah menetapkan target untuk memproduksi 1 miliar liter bioetanol dari tebu pada 2025. Bioetanol merupakan bahan bakar terbarukan yang dapat diproduksi dari biomassa, seperti tebu, jagung, dan singkong. Bahan bakar ini lebih bersih daripada bensin dan dapat membantu mengurangi emisi gas rumah kaca.
Indonesia memiliki sejumlah keuntungan untuk memproduksi bioetanol dari tebu. Negara ini memiliki iklim tropis yang ideal untuk menanam tebu. Indonesia juga memiliki industri tebu yang besar, yang menyediakan pasokan bahan baku yang siap pakai.
Namun terdapat sejumlah tantangan untuk memproduksi bioetanol dari tebu. Seperti biaya produksi yang relatif tinggi biaya bahan baku, energi, dan input lainnya. Ketersediaan bahan baku tebu juga tidak selalu terjamin karena faktor-faktor seperti kondisi cuaca dan hama. Selain itu unfrastruktur untuk mengangkut dan menyimpan bioetanol belum sepenuhnya berkembang di Indonesia. (tar)
Sabtu, 24 Januari 2026
Sabtu, 17 Januari 2026
Selasa, 13 Januari 2026
Kamis, 19 Februari 2026
Sabtu, 24 Januari 2026
Kamis, 22 Januari 2026
Minggu, 18 Januari 2026
Kamis, 15 Januari 2026
Minggu, 08 Maret 2026
Sabtu, 21 Februari 2026
Kamis, 19 Februari 2026









