Baru sekitar 2.500 tahun yang lalu, gula dalam bentuk butiran pertama kali diproduksi di India.

Ini Fakta-Fakta Seputar Gula

Rabu, 02 Agustus 2023, 08:01 WIB

Gula | Sumber Foto:Feelphotoz/Pixabay

AGRONET -- Pada awalnya tebu diyakini digunakan sebagai tanaman pakan ternak. Baru sekitar 2.500 tahun yang lalu, gula dalam bentuk butiran pertama kali diproduksi di India. Sejak saat itu, selera manusia terhadap rasa manis dan kalorinya menjadikan gula sebagai salah satu tanaman paling berharga di dunia. Tebu adalah tanaman penghasil kalori di peringkat ketiga setelah sereal dan beras.

Menurut Organisasi Gula Internasional (ISO), produksi dunia tahun 2021 turun 4,164 juta metrik ton (mt) menjadi 165,167 juta mt, yang merupakan penurunan tahun ketiga.

Hasil panen baru-baru ini dipengaruhi oleh cuaca buruk. Rendahnya curah hujan diperkirakan akan mengurangi hasil panen lagi tahun ini. Panen tahun lalu turun karena curah hujan yang lebih rendah di bulan Juni-Juli, dan pola cuaca yang sama juga terlihat tahun ini. Berikut fakta gula yang dikumpulkan dari lembaga The Institute of Export and International Trade dari Inggris.

 

Tebu atau bit

Kurangnya hujan tidak terlalu menjadi masalah di belahan bumi utara, yang mana hal ini penting karena produksi gula adalah urusan utara-selatan. Gula berasal dari tebu (yang menyumbang 80 persen dari total produksi gula) atau gula bit (yang menyumbang 20 persen sisanya).

Tebu merupakan tanaman di belahan bumi selatan, sedangkan bit sebagian besar ditanam di utara. Uni Eropa adalah produsen gula bit terkemuka di dunia, dengan sekitar 50 persen dari jumlah total.

Negara-negara penghasil gula bit yang paling kompetitif adalah Prancis, Jerman, Belanda, Belgia, dan Polandia. Uni Eropa juga memiliki industri pemurnian penting yang memproses gula tebu mentah yang diimpor.

Tarif Uni Eropa pada tebu impor untuk melindungi petani bit menyebabkan Tate & Lyle yang berbasis di Inggris menjadi pendukung utama Brexit. Perusahaan ini, yang membuat gula dan sirup dari tebu, merasa dirugikan.

Sebuah laporan Greenpeace mengeklaim bahwa perusahaan ini menghemat tarif sebesar 73 juta poundsterling ketika Inggris menetapkan rezim tarifnya sendiri. Kebijakan itu memungkinkan hingga 260.000 ton gula mentah bebas tarif masuk ke negara tersebut. 

 

Produksi

Konsumsi gula dunia meningkat pada tahun 2021, setelah tiga tahun mengalami penurunan, menjadi 168,479 juta ton. Menurut laporan prospek pertanian OECD, konsumsi rata-rata per kapita global diperkirakan akan meningkat selama dekade mendatang karena peningkatan pendapatan dan urbanisasi di negara-negara berkembang.

Konsumsi gula di Asia diperkirakan akan tumbuh paling tinggi dan mewakili lebih dari setengah konsumsi global pada tahun 2030, yang mencerminkan permintaan yang lebih tinggi pada produk kembang gula dan minuman ringan yang kaya gula.

Sementara itu, konsumsi di negara-negara maju diperkirakan tidak akan tumbuh dalam dekade mendatang, yang merupakan cerminan dari kekhawatiran akan dampak negatifnya terhadap kesehatan jika dikonsumsi secara berlebihan.

Konsumsi per kapita di sini diperkirakan akan menurun, meskipun dengan laju yang lebih lambat daripada 10 tahun terakhir, karena beberapa negara telah menerapkan langkah-langkah, seperti pajak gula, untuk mencegah konsumsi gula.

 

Tebu sebagai bahan bakar

Selain digunakan sebagai bahan makanan, gula juga semakin banyak digunakan dalam produksi bahan bakar bioetanol. Di seluruh dunia hampir 20 persen tebu digunakan untuk produksi etanol, dengan Brasil memasok 84 persen bioetanol yang diproduksi dari gula.

Sekitar 110 negara memproduksi gula baik dari tebu atau bit. Sepuluh negara penghasil gula terbesar itu menyumbang hampir 70 persen dari produksi global. (tar)