Industri makanan Korsel merasa cemas.

Penguasaha makanan manis Korsel terpukul tren harga gula yang tinggi. | Sumber Foto:Flickr
AGRONET -- Harga gula di Korea Selatan (Korsel) mencapai angka tertingginya dalam 11 tahun. Harga gula di pasar dunia diperdagangan di atas 700 dolar AS per ton. Ini naik lebih dari 30 persen dalam empat tahun dan tertinggi sejak Desember 2011. Akibatnya, muncullah istilah sugarflation.
Gula merupakan bahan dasar makanan manis, makanan penutup dan sebagian besar kuliner Korea. Kenaikan harga gula menambah beban pengusaha toko roti kecil seperti Song Chihun.
Hampir 50 persen bahan kue-kue produksi Song adalah gula. Namun ia tidak bisa menaikan rotinya karena inflasi sudah mempengaruhi harga produknya.
"Kami ingin memantau situasi dan berharap harga gula stabil, tapi yang kami khawatirakan adalah ini akan memberikan tekanan terlalu besar bila kenaikan harga menimbulkan rantai reaksi, bila harga tepung naik dan bahan penting lainnya juga naik," kata Song seperti dikutip CGTN, Rabu (10/5/2023).
Kenaikan harga gula disebabkan abnormalitas suhu udara dan curah hujan di negara produsen gula seperti Brasil dan India. Turunnya pasokan mendorong negara produsen seperti India memberlakukan kuota ekspor.
Kenaikan harga ritel akan memberi tekanan pada outlook inflasi secara keseluruhan. Industri makanan dan minuman akan terkena dampak langsung.
"Tertuama di industri makanan manis, karena membutuhkan banyak gula, bila situasinya berkepanjangan, pemilik-pemilik usaha kecil akan mempertimbangkan untuk menaikan harga produknya atau tidak," kata Song.
Salah satu sumber dari industri gula mengatakan kenaikan harga gula tidak akan berdampak langsung pada biaya makanan pabrik karena kontrak-kontrak jangka lama.
"Sebagian mengatakan ini tidak menimbulkan masalah pada saat ini karena kontrak pembelian gula biasanya berjangka panjang yang berlangsung selama beberapa tahun, tapi ketika pasokan yang tersedia sudah hampir dan masa berlaku kontrak sebelumnya sudah habis, masalah akan muncul," kata profesor keuangan dan ekonomi Hanyang University Lee Jeong Hwan.
Turunnya produksi, langkanya pasokan dan naiknya harga seperti masalah yang terjadi pada tepung tahun lalu, merupakan isu berulang. Pakar mengatakan diversifikasi impor dan mengamankan sumber daya diperlukan untuk menstabilkan pasokan pangan.
"Karena banyak petani skala kecil di masyarakat lokal, upaya mengamankan sumber makan sedikit sulit, dalam jangka panjang, kami dapat bergerak ke arah mengamankan sumber pangan dan memproduksinya dengan efesien melalui petani korporat," kata Lee. (tar)
Sabtu, 24 Januari 2026
Sabtu, 17 Januari 2026
Selasa, 13 Januari 2026
Sabtu, 24 Januari 2026
Kamis, 22 Januari 2026
Minggu, 18 Januari 2026
Kamis, 15 Januari 2026
Selasa, 13 Januari 2026
Jumat, 23 Januari 2026
Jumat, 23 Januari 2026
Rabu, 21 Januari 2026










