Industri penerbangan bertanggung jawab 2 persen lebih emisi CO2 di seluruh dunia.

Tebu menjadi sumber paling potensial untuk biofuel dibanding komoditas lain yang ada saat ini. | Sumber Foto:Enoch Lau/Wikimedia
AGRONET -- Maskapai Qantas mendanai proyek untuk mengolah produk sampingan tebu di Queensland, Australia menjadi bahan bakar pesawat atau biofuel. Langkah ini dilakukan setelah industri penerbangan ditekan untuk meminimalisir emisi.
Dikutip dari the Guardian, Selasa (4/4/2023) Qantas mengumumkan mereka dan pabrik pesawat Airbus berinvestasi sebesar 2 juta dolar untuk membangun fasilitas produksi biofuel yang diharapkan dalam memproduksi 100 juta liter bahan bakar pesawat berkelanjutan (SAF) per tahun saat dibuka pada 2026 mendatang. Pemerintah Queensland juga menjanjikan 760 ribu dolar AS sebagai dana awal proyek senilai 6 juta dolar AS.
Fasilitas produksi biofuel itu akan dibangun Jet Zero Australia yang bekerja sama dengan perusahaan AS LanzaJet yang sudah memproduksi SAF dari limbah karbon monoksida pabrik besi di Cina. Maskapai-maskapai AS sudah menggunakan SAF Lanzajet sebagai produk campuran.
Proses Lanzajet mengubah limbah menjadi etanol yang kemudian dikonversi menjadi komponen yang digunakan untuk SAF. Pesawat-pesawat komersial sudah menggunakan SAF.
Airbus mengatakan semua pesawatnya dapat menggunakan produk campuran SAF hingga 50 persen dari total bahan bakar. Tapi pakar yakin butuh waktu puluhan tahun hingga SAF dapat sepenuhnya diandalkan industri penerbangan.
Industri penerbangan bertanggung jawab 2 persen lebih emisi CO2 di seluruh dunia. Qantas sudah menggunakan SAF, sekitar 10 juta liter pada 2023 yang dibeli dari luar negeri.
Maskapai itu berkomitmen pada 2030 akan menggunakan SAF sebagai bahan bakar campuran minimal 10 persen dari total bahan bakarnya. Qantas berharap dapat mengandalkan biofuel untuk meraih target nol emisi pada 2050.
Di Australia, Jet Zero fokus pada produk sampingan pertanian dari industri tebu di Queensland utara. Perusahaan itu berencana membangun pabrik di wilayah tersebut dan mengandalkan akses pelabuhan terdekat.
Awalnya Jet Zero Australia juga menggunakan produk sampingan pati gandum dari New South Wales. Tapi menurut direktur pelaksana Jet Zero Ed Mason, potensi tebu yang terbaik untuk dijadikan biofuel pesawat.
Mason mengatakan negara-negara lain telah mengembangkan sumber-sumber SAF dengan mengkonversi minyak sayur, minyak sawit, dan lemak hewan. Sementara Jet Zero fokus pada produk sampingan pertanian.
"Menurut saya, (minyak dan lemak) tidak lebih bersih," kata Mason sambil menambahkan bahwa awa perspektif sosial masyarakat lebih senang terbang dengan biomassa dibandingkan lemak hewan.
Mason mengakui produksi bahan bakar penerbangan yang berkelanjutan masih sangat dini. "Kami pelopornya, kami mengambil resiko dengan teknologi yang belum terbukti, tapi kami bermitra dengan teknologi yang paling canggih yang sudah digunakan," katanya.
"Kami tidak bisa bergantung pada sumber baru untuk datang ke pasar, dan kami mendapat komitmen dari maskapai-maskapai bahwa mereka akan membeli bahan bakar ini," tambahnya.
Mason mengatakan Jet Zero Australia "dengan agresif bergerak melalui uji kelayakan" dan menahan investasi akhir. Dengan harapan pabrik mulai dibangun tahun dengan dengan visi dapat beroperasi pada 2026 dan menjadi pabrik bahan bakar pesawat berkelanjutan pertama di Australia. (tar)
Sabtu, 24 Januari 2026
Sabtu, 17 Januari 2026
Selasa, 13 Januari 2026
Sabtu, 24 Januari 2026
Kamis, 22 Januari 2026
Minggu, 18 Januari 2026
Kamis, 15 Januari 2026
Selasa, 13 Januari 2026
Jumat, 23 Januari 2026
Jumat, 23 Januari 2026
Rabu, 21 Januari 2026










