Kenaikan harga gula dan kebijakan anti-dumping produk tebu dari Thailand menjadi penopang kebangkitan insudtri gula Vietnam.

Industri Gula Vietnam Mulai Pulih

Senin, 27 Maret 2023, 09:34 WIB

Meskil lahan tebu berkurang 4 persen year-on-year, panen tebu naik 64,4 ton per hektar. | Sumber Foto:Idan Robbins/wikimedia

AGRONET -- Bisnis industri gula Vietnam diprediksi akan rebound setelah ditopang kenaikan harga gula dan kebijakan anti-dumping produk tebu dari Thailand. Pada bulan Februari harga gula mentah mencapai angka tertingginya dalam enam tahun terakhir sekitar 22 sen per pon (dalam dolar AS).

Rata-rata harga gula mentah pada Februari 20,23 sen per pon. Ini lebih tinggi dibandingkan pada Januari yang sekitar 18,87 sen per pon dan Desember sekitar 18,93 sen dolar per pon.

Berdasarkan data Organisasi Pangan dan Pertanian PBB, rata-rata harga gula mentah pada 10 bulan pertama 2022 sekitar 18,5 sen per pon. Lembaga yang bermarkas di Roma itu memprediksi pada 2029 rata-rata harga gula mentah mencapai 21,3 sen per pon. Namun, pada Januari lalu harga gula telah melampaui 21,3 sen per pon.

Situs perdagangan tradingecnomics.com melacak hingga Kamis (23/3/2023) lalu harga gula mentah di pasar internasional sekitar 21,14 sen per pon. Melanjutkan tren kenaikan sejak titik terendah yaitu naik 9 sen per pon pada April 2020.

Mengikuti kenaikan harga gula global, harga gula Vietnam naik 8 sampai 10 persen year-on-year pada 2022. Kuatnya kenaikan harga di bulan-bulan pertama 2023 membawa prospek positif pada produsen gula Vietnam.

Dikutip dari einnews.com, Satu (25/3/2023) Vietcombank Securities Company (VCBS) melaporkan produksi gula pada musim panen 2021/2022 mencapai 949.200 ton. Produksi gula dari tebu sebanyak 746.900 ton atau sekitar 78,6 persen. Meningkat 8,3 persen dibanding musim sebelumnya.

Meskil lahan tebu berkurang 4 persen year-on-year, panen tebu naik 64,4 ton per hektare. Ini mendorong produksi tebu naik 11,8 persen.

Total pasokan gula pada 2022 diperkirakan 2,8 juta ton sementara permintaan hanya 2,1 sampai 2,3 juta ton. Tahun lalu pangsa pasar gula domestik hanya 27 persen karena banyaknya gula selundupan sebagian besar dari Thiland.

Meski kelebihan pasokan, harga gula lokal masih merangkak naik karena kebijakan anti-dumping. Sebelum pajak anti-dumping, harga gula Vietnam mendekati harga gula Indonesia dan Cina, setengah harga gula Filipina dan sekitar 25 persen lebih tinggi dari harga gula Thailand.

Namun, setelah kebijakan anti-dumping harga gula impor dari Thailand dan berasal dari Thailand diperkirakan sekitar 22 ribu dong Vietnam per kilo, sekitar 10 sampai 15 persen lebih tinggi dari harga gula Cina, Indonesia, dan Vietnam.

Setelah menerapkan sejumlah kebijakan untuk mengatasi pengalihan perdagangan, jumlah produk gula dari negara-negara ASEAN terutama dari Thailand, Laos, dan Kamboja ke Vietnam turun drastis. Total volume impor gula sepanjang tahun 2022 turun 12,6 persen year-on-year, dengan sumber utama penggantinya dari Australia dan Indonesia. (tar)