Sisa tebu dapat digiling dan disuntikkan ke dalam tanah menggunakan proses biomass slurry fracture injection.

Ilmuwan AS: Tebu Dapat Menangkap Senyawa Karbon

Senin, 20 Maret 2023, 11:08 WIB

Tebu disebut dapat menangkap senyawa karbon. | Sumber Foto:walpaperflare.com

AGRONET -- Penangkapan dan penyimpanan karbon atau carbon capture storage (CCS) menjadi isu hangat di beberapa negara bagian Amerika Serikat (AS). CCS adalah proses memompa gas rumah kaca ke dalam tanah dan tidak mengembalikannya ke udara.

Beberapa pejabat dan pakar industri AS mengatakan CSS alat yang dapat menghentikan perubahan iklim dan mendorong perekonomian. Beberapa warga khawatir dengan resiko lingkungan atau dampaknya pada kesehatan, tapi sejumlah proyek CSS sudah direncanakan.

Sekelompok profesor dari Louisiana State University (LSU) sedang meneliti tebu sebagai CCS. Profesor Departemen Ilmu Lingkungan Brian Snyder dan rekan-rekannya, Harun Rashid dan Olufemi Olorode dari Departemen Teknik Perminyakan dan Carlie Dutile dari Departemen Teknik Biologi dan Pertanian telah melakukan penelitian yang disebut biomass slurry fracture injection selama tiga tahun.

Untuk memahami prosesnya harus diketahui bagaimana siklus karbon bekerja. Tumbuhan mengambil karbon yang terdapat di atmosfer untuk berfotosintesis. Sebagian karbon menjadi bagian dari massa tumbuhan dan membantunya tumbuh, sebagian menyerap ke tanah.

Tumbuhan menjadi penyerap karbon sampai mati. Artinya karbon kembali menguap ke atmosfer selama proses pembusukan.

"Pada dasarnya, apa yang proyek ini lakukan tidak membiarkan tahapan pembusukan," kata Snyder seperti dikutip dari the Advocate.com, Minggu (19/3/2023).

Ketika tebu dipanen, sebagian yang tidak digunakan menjadi ampas tebu. Biasanya ampas merilis kembali karbon ke atmosfer. Tapi Synder mengatakan, sisa tebu dapat digiling menjadi bubur dan disuntikkan ke dalam tanah menggunakan proses biomass slurry fracture injection.

Industri minyak dan gas yang pertama kali menemukan proses injeksi ini menggunakannya untuk membuang batu yang terkontaminasi. Perusahaan-perusahaan lain menggunakannya untuk menyuntikan limbah. Snyder mengatakan, temuan ini dapat memberi alternatif bagi komunitas pertanian tentang bagaimana membuang limbah mereka.

"Mungkin ini dapat bekerja pada semua limbah pertanian, serpihan kayu, serbuk gergaji dari produksi kehutanan atau kertas, limbah pemrosesan hewan, bahan baku kaya karbon apa pun, anda bahkan bisa menanam tanaman khusus untuknya seperti rumput atau alga," kata Snyder.

Proses biomass slurry injection berbeda dari proyek CCS lainnya. Proyek-proyek CCS lain mengambil karbon dari sumber emisi seperti cerobong asap. Sementara biomass slurry injection mengambil karbon dari atmosfer. Proses ini juga dapat digunakan pada skala yang lebih kecil.

"Anda membutuhkan banyak sumur, tapi setiap sumur tidak disuntikan jutaan ton karbon dioksida per tahun, sebagian besar prosesnya tidak membutuhkan skala sebesar itu, terutama di sektor pertanian, jadi lebih tepat bagi pertanian," kata Snyder.

Snyder mengatakan proyek-proyek CCS  biasanya menyuntikan sekitar satu sampai dua juta CO2 per tahun sementara biomass slurry injection hanya 30 ribu ton per tahun. Proses ini dapat berdampak besar bagi bumi.

"Kita harus menghilangkan C02 dari atmosfer untuk mendekati tujuan Perjanjian Paris, proses itu tidak bisa melakukan semuanya tapi dapat berkontribusi," katanya.