Harga gula diproyeksikan masih akan lebih menguntungkan dibandingkan etanol di Brasil.

Etanol Kurang Dilirik, Brasil Tetap Fokus Produksi Gula

Rabu, 01 Maret 2023, 17:29 WIB

Panen tebu | Sumber Foto:Mette Nielsen/wikimedia

AGRONET -- Produsen tebu Brasil diperkirakan tetap memilih memproduksi gula dibandingkan etanol pada tahun 2023-2024 yang akan dimulai pada Maret 2023. Ini 15 hari lebih awal dari biasanya karena musim hujan 2022 membuat produsen belum memproses semua tebu yang ada.

Kondisi ini sangat berbeda dari musim panen 2021-2022 yang berakhir pada April, ketika cuaca kering menekan kualitas tebu. Tingginya curah hujan di negara-negara bagian penghasil tebu pada 2022 meningkatkan jumlah panen tapi berdampak negatif pada pemrosesan.

S&P Global Commodity Insights memperkirakan, total panen kedua pada 2023-2023 mencapai 586 juta ton. Ini naik 35,84 juta ton dari musim panen 2022-2023, tapi masih dibawah rekor panen 2021-2022 yang sebesar 605 juta ton.

"Dengan asumsi cuaca baik hingga Maret, yaitu periode paling penting pada periode pertumbuhan tebu, panen ladang tebu pada 2023-2024 diperkirakan naik hingga 78 ton per hektar, naik 6,5 persen per tahun," kata global manager analisa gula dari S&P Global Commodity Insight, Luciana Torrezan, Rabu (1/3/2023).    

"Ketersediaan tebu diperkirakan tumbuh 586 juta ton, naik 36 juta ton dari tahun lalu," katanya.

Produsen diperkirakan memaksimalkan produksi gula daripada etanol. Sesuai dengan tren 2020-2021 saat harga bahan bakar tidak menentu dan program pemerintah untuk memenuhi poin Konferensi Perubahan Iklim PBB. Semua itu tidak menjamin stabilitas yang mendorong pabrik gula untuk meningkatkan produksi etanol.

Pola produksi yang sama telah diamati sejak musim panen 2020-2021. Ketika rata-rata premi gula di pasar ekspor dihargai 55,60 dolar AS per ton dibandingkan hydrous ethanol di pasar domestik. Pada 2021-2022 premi turun menjadi 17.83 dolar per ton tapi naik lagi pada tahun 2022-2023 antara 1 April sampai 19 Desember sekitar 52 dolar per ton.

Lebarnya perbedaan harga antara gula di pasar ekspor dan hydrous ethanol di pasar domestik diperkirakan menyempit bila pemulihan pajak federal Pis dan Cofins diberlakukan pada 1 Januari.

"Walaupun pemerintah federal memberlakukan pajak bahan bakar pada Januari 2023 akan menjadi faktor pendukung harga etanol, pabrik tebu Brasil diperkirakan akan mempertahankan produksi gula hingga maksimal pada 2023-2024," kata Torrezan.

"Harga gula diproyeksikan masih akan lebih menguntungkan dibandingkan etanol di Brasil, saat perdagangan minyak mentah Brent di bawah 90 dolar AS per barel dan asumsi (perusahaan energi Brasil) Petrobas akan menyesuaikan harga bensin internasional," tambahnya. (tar)