Para petani semakin memandang tanah mereka sebagai suatu makhluk hidup.

Di India, Solidaridad Bidik Pertanian Tebu Berkelanjutan

Sabtu, 14 Desember 2024, 06:56 WIB

Tebu | Sumber Foto:Sarah and Jason/Flickr

AGRONET – Program Solidaridad yang membidik pertanian tebu di Maharashtra, India barat, menunjukkan sejumlah hasil positif. Di wilayah tersebut, para petani telah berhasil menghemat air 15 juta liter per tahun dan hasil panen yang meningkat 12 persen.

Kawasan Maharashtra di India Barat merupakan salah satu kawasan penghasil tebu terbesar di dunia, yang menghasilkan 13,7 juta ton gula dan produk sampingan lainnya, termasuk etanol. Sebagian besar dari 1.250.000 petani di wilayah ini bergantung pada produksi tebu sebagai sumber pendapatan mereka.

Pembakaran limbah pascapanen juga merupakan sumber polusi udara yang meluas. Praktik pertanian yang baik belum diterapkan oleh sebagian besar petani tebu. Dengan mentransfer pengetahuan praktis, menyediakan akses terhadap teknologi dan material, serta mendidik praktik-praktik yang baik, para petani semakin memandang tanah mereka sebagai suatu makhluk hidup.

Program ini juga melakukan pemberdayaan para istri petani melalui usaha pembuatan kompos. Hingga 2023, sekurangnya 30 metrik ton kompos telah dihasilkan mereka.

“Saya suka pekerjaan pertanian. Saya mencintai alam dan pekerjaan ini membuka peluang bagi saya untuk bekerja sama dengan alam,” ujar salah satu istri petani, Swati Sanjay Pavale, yang dimuat di laman Solidadidad, 1 Juni 2023 lalu.

Kini usaha rumahan yang dilakukan Swati menghasilkan kompos yang amat diminati pada pelanggannya. Kompos produksinya mampu menggantikan pupuk yang selama ini biasa mereka beli sehingga memotong biaya produksi.

 

Perubahan prilaku

Ketika Pemerintah India mendorong peningkatan produksi etanol, semakin banyak petani yang ingin menanam tebu. Hal ini disertai dengan tantangan lingkungan dan sosial yang besar. Banyak di antara mereka yang hanya mempunyai satu atau dua hektar lahan tebu, tidak cukup untuk memberikan pendapatan memadai, dan pertanian monokultur dapat menghabiskan tanah dan mengganggu permukaan air.

Solidaaridad menggelar program bertajuk “Pengurangan Penggunaan Air dan Emisi Karbon  melalui Program Pertanian Tebu Regeneratif dan Berkelanjutan” sejak 2021. Hingga Juni 2023, lembaga swadaya masyarakat ini melatih 10.000 orang mengenai praktik pertanian regeneratif dan berkelanjutan.

Kini, sejumlah hasil telah ditunjukkan, antara lain pengurangan pembakaran limbah pertanian sebesar 60 persen, peningkatan penggunaan pupuk organik sehingga telah mengurangi penggunaan pupuk kimia  sebesar 15 persen, penghematan air 15 juta liter per tahun, dan peningkatan hasil hampir 12 persen. Sejumlah perubahan prilaku petani juga terlihat, misalnya penerapan langkah-langkah keselamatan termasuk memakai masker, sarung tangan, dan sepatu bot karet. Para petani juga membuah limbah bahan kimia pertanian secara aman dengan bantuan wadah penyimpanan khusus. *