Penggunaan akal imitasi (AI) mampu merevolusi industri gula.

Analis Sebut AI Mampu Merevolusi Industri Gula

Rabu, 23 Oktober 2024, 14:19 WIB

Drone dalam pertanian (ilustrasi) | Sumber Foto:Freepik

AGRONET – Penggunaan artificial intelligence atau akal imitasi (AI) mampu merevolusi industri gula. Hal ini diungkap seorang analis industri gula asal India, PG Medhe di laman Chinimandi.com, Selasa (22/10/2024).  

Menurut Medhe, fungsi AI di industri gula dilakukan dengan “meningkatkan berbagai aspek dalam panen, pemrosesan, dan keberlangsungan tebu. Salah satu contoh penggunaan AI adalah dilakukan oleh asosiasi industri gula Sahakar Maharshi Shankarrao Kolhe Cooperative Sugar Factory Ltd. Di Maharashtra, India. Sedangkan teknologi AI dikembangkan oleh Mahindra dan perusahaan pengembang teknologi pertanian asal Swiss, Gamaya.

“Kemampuan AI untuk menelaah data dari pola cuaca, kualitas tanah, dan kemunculan penyakit memungkinkan terciptanya model prediksi untuk mengoptimalkan kesehatan dan panen lahan,” papar Medhe.

Dengan AI, petani bahkan dapat memitigasi risiko terkait kondisi yang sulit diprediksi. Salah satunya, AI dapat membantu mengidentifikasi gejala penyakit tanaman tebu bahkan sebelum terlihat oleh mata telanjang.

Namun, Medhe mengakui bahwa penggunaan AI di industri gula memang membutuhkan investasi dan pengembangan infrastruktur. Maka ia menekankan pentingnya kolaborasi antara para pemangku kepentingan, perangkat yang menjamin keamanan data, serta riset yang terus berlanjut. Ia juga menyebutkan, para petani pun perlu mendapatkan pelatihan yang mumpuni.

 

Ranah aplikasi AI

Medhe memerinci ranah yang dapat diuntungkan karena menggunakan AI. Setidaknya ada tujuh ranah yang dipaparkan berikut ini.

1. Manajemen dan pemantauan tanaman: Satelit AI dapat digunakan untuk memantau ladang tebu. Teknologi ini menyediakan data real time mengenai kesehatan tanaman termasuk pertumbuhan dan potensi hama serta asupan nutrisinya.

2. Prediksi: AI memungkinkan prediksi terbaik untuk mengoptimalkan waktu tanam dan panen. Prediksi ini dilakukan dengan menganalisis data sejarah cuaca, kondisi tanah, dan kinerja lahan. Model ini mengoptimalkan hasil panen dan menekan kemungkinan kerugian akibat cuaca. Analisis ini juga membantu meramal kebutuhan dan harga pasar.

3. Deteksi dan manajemen penyakit: Sistem AI mendeteksi gejala awal penyakit pada tebu melalui pengenalan pada tampilan dan analisis pola tanaman, meski tidak terdeteksi oleh mata telanjang. Praktik ini terutama berguna pada penyakit busuk merah dan penyakit luka api.

4. Sistem irigasi otomatis: Sistem irigasi berbasis AI menggunakan sensor untuk memantau tingkat kelembaban tanah dan ramalan cuaca. Proses ini mampu memaksimalkan penggunaan air secara efisien dan menhindari air terbuang percuma.

5. Prediksi hasil panen: Algoritma mesin menganalisis beragam faktor, mulai dari kualitas tanah, pola cuaca, hingga praktik manajemen tanaman untuk memprediksi hasil panen tebu. Proses ini membantu petani dalam perencanaan sumber daya dan logistik dalam pemanenan.

6. Pemupukan yang tepat: AI membantu menentukan takaran dan tipe pupuk yang diperlukan untuk setiap bagian lahan. Sistem ini menganalisis contoh tanah dan kebutuhan tanaman sehingga jenis nutrisi yang dibutuhkan dapat diberikan secara tepat dan menghindari dampak negatif pada lingkungan.

7. Optimalisasi rantai pasokan: AI mampu mengoptimalkan rantai pasokan dengan memprediksi kebutuhan, mengelola pasokan yang ada, hingga penjadwalan pengiriman. Proses ini memastikan pengiriman tepat waktu dan meningkatkan efisiensi rantai pasokan tebu. (yen)