Hah...Buah Ini Ternyata Paling Banyak Mengandung Pestisida

Minggu, 16 September 2018, 07:50 WIB

Buah stroberi. | Sumber Foto:Pixabay

AGRONET—Kementerian Pertanian Amerika Serikat (AS) mengumumkan temuan yang mengejutkan. Sebagaimana dilaporkan majalah Time akhir pekan lalu, Kementan AS menginformasikan, bahwa ada 230 jenis pestisida yang menempel pada 70 jenis buah maupun sayuran.

Tahukah Anda, jenis sayur atau buah apa yang paling banyak menngandung residu (sisa) pestisida di sana? Jawabannya sungguh tak terduga sebelumnya.

Ya dari hasil pengujian di sana, buah stroberi (strawberry) dan sayur bayam paling banyak mengandung residu pestisida. Tak kurang dari 20 jenis residu pestisida yang lekat dengan stroberi. Padahal di sini stroberi termasuk buah yang disukai anak-anak bila sudah diolah menjadi barang jadi, termasuk selai.

Adapun bayam mengandung dua kali lipat residu pestisida dibandingkan dengan sayuran lainnya. Hanya saja, Kementan AS tak menyebut jumlah pestisida yang menempel di sayur bayam

Setidaknya, ada 12 buah dan sayuran yang mengandung pestisida tertinggi. Jenis buah dan sayuran dengan kadar konsentrasi pestisida tinggi itu antara lain: ceri, tomat, apel, anggur, persik, seledri, kentang, paprika, dan pir.

Seballiknya, Kementan AS juga mengumumkan tanaman yang mengandung sedikit pestisida. Tanaman itu antara lain: asparagus, brokoli, kiwi, alpukat, jaagung, nanas, kubis, terong, kiwi, pepaya, mangga, kacang, dan bawang.

Sebenarnya temuan itu bukan hal yang baru sama sekali. Namun, selama ini publikasinya memanng tak terlalu gencar. Secara umum, pada tahun seblumnya, jenis tumbuhan yang tercemar pestisida tak jauh dari nama-nama di atas.

Tentu saja jenis tanaman yang terkena bahan kimia ini sangat berisiko jika dikonsumsi. Dalam Undang-Undang Federal 1996 di AS mengenai Enivironmental Protection Agency (EPA), jelas disebutkan bahayanya jika mengonsumsi tanaman yang mengandung bahan-bahan kimia.

Penelitian tentang dampak mengonsumsi buah/sayur yang mengandung pestisida dan bahan kimia lainnya kini terus dikembangkan. Bahan berbahaya itu antara lain bisa mengurangi tingkat kesuburan, risiko menimbulkan kanker, gangguan kesehatan dalam jangka panjang, dan lain-lain.

Dari hasil temuan ini, para ahli menyarankan agar masyarakat lebih banyak mengonsumsi buah atau sayur organik. Tanaman organik berarti komoditas pertanian yang dipelihara secara alami dan bebas dari bahan kimia. (442)