
Gelang Kopi | Sumber Foto:Agronet.co.id
AGRONET – Berawal dari seringnya begadang tiap malam bersama teman-temannya, Yudhi Prasetyo akhirnya bersahabat dengan kopi. Setiap kali rasa kantuk menyerang, Prasetyo selalu membutuhkan kopi, agar mata tetap melek. Hingga akhirnya Prasetyo tak pernah lepas dari ’bubuk hitam pahit’ ini. Ia memang kadang harus bangun hingga larut malam karena kesibukkannya sebagai karyawan maupun sebagai mahasiswa S-2 di STPMD Yogyakarta.
Pengalamannya sebagai mahasiswa S-2 dalam studi literatur, juga diterapkan untuk mencari tahu tentang manfaat kopi lewat browsing di dunia maya. Ternyata kopi memiliki banyak manfaat. Salah satunya adalah aromanya yang khas.
Untuk yang biasa mengunjungi toko parfum, tentu akan membutuhkan kopi sebagai penawar indra penciuman. Apalagi jika harus mengendus beberapa aroma parfum.
Di tengah kesibukannnya menyusun tesis, muncullah pemikiran ’gila’ Prasetyo. ”Saya akan membuat gelang dari biji kopi agar bisa dibawa kemanapun pergi dan dapat dinikmati aromanya kapanpun,” ujar Prasetyo. Bagi Prasetyo, dengan mencium aroma kopi, ia seperti mendapatkan sensasi yang luar biasa. Salah satunya sebagai pengusir rasa kantuk.
Namun tak mudah mewujudkan gagasan itu. Biji kopi yang sudah disangrai akan mudah pecah. Padahal untuk memunculkan aroma, kopi harus disangrai. Untuk memecahkan masalah ini, Prasetyo kemudian menghubungi kolega lamanya, pengrajin asesoris dan peneliti soal biji buah-buahan.
Setelah mendapat banyak masukkan, alumni S1 UPN Veteran Yogyakarta jurusan Ilmu komunikasi (Public Relations) ini kemudian memilih metode roaster untuk memperkuat biji kopi agar dapat dimanfaatkan sebagai asesoris.
Akhirnya pada April 2016, Prasetyo mulai meluncurkan produk pertamanya, gelang biji kopi. Tapi mengapa gelang? ”Gelang selalu menempel di pergelangan tangan dan relatif mudah membuka pasar,” jelas Prasetyo. Tapi gelang biji kopi produksi Prasetyo masih menemui masalah. Masih ada biji kopi yang pecah.
Prasetyo tidak putus asa. Ia kemudian konsultasi pada kolega yang ahli dibidang roaster. Tidak sebatas pada sistem pengeringan, tapi juga soal pemilihan biji kopi. Akhirnya diputuskan biji kopi yang dipilih adalah jenis Arabika dengan kualitas A dan didatangkan dari tempat kelahirannya, Palembang.
Prasetyo mengawali pemasaran gelang biji kopi dengan cara pemasaran mulut ke mulut (Word of Mouth). Respon pasar ternyata sangat positif. Naluri dagang Prasetyo terus berkembang. Ia juga membuat kalung, pigura (photo frame), tasbih, dan lain-lain. ”Pokoknya semua dari kopi agar aromanya tetap bisa dinikmati,” ujar Prasetyo.
Saat ini gelang kopi buatan Prasetyo telah dikenal di pasar dalam negeri. Dan belum genap satu tahun, gelang kopinya telah berhasil menembus pasar Jerman. (020)
Sabtu, 24 Januari 2026
Sabtu, 17 Januari 2026
Selasa, 13 Januari 2026
Sabtu, 24 Januari 2026
Kamis, 22 Januari 2026
Minggu, 18 Januari 2026
Kamis, 15 Januari 2026
Selasa, 13 Januari 2026
Jumat, 23 Januari 2026
Jumat, 23 Januari 2026
Rabu, 21 Januari 2026










