Lada Putih Babel Ingin Bangkit Lagi

Jumat, 16 Februari 2018, 18:39 WIB

Gubernur Kepulauan Bangka Belitung Erzaldi Rosman seusai menyampaikan kuliah umum di Kampus Institut Pertanian Bogor

 AGRONET - Produksi lada Bangka Belitung sempat menguasai 40 persen pangsa pasar dunia. Angka tersebut  didapat berdasarkan data International Pepper Community (IPC) tahun 2014. Kini, berbagai kebijakan terhadap sektor ini diharapkan dapat membangkitkan kejayaan lada.

Menurut Gubernur Kepulauan Bangka Belitung, Erzaldi Rosman, saat menyampaikan kuliah umum di Institut Pertanian Bogor, perkebunan lada dan produk turunannya masih sangat potensial untuk dikembangkan di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Agar kejayaan lada Bangka Belitung bisa bangkit lagi, perlu penanganan secara komprehensif. sehingga lada putih khas Bangka Belitung kembali berjaya di pasar internasional.

Saat ini sudah terpetakan permasalahan sistem agribisnis lada. ”P\Untuk permasalahan di hulu, petani pada umumnya masih menggunakan bibit dari kebun sendiri atau kebun petani lainnya,” kata gubernur, Kamis (15/2).

Petani juga masih mengalami hambatan untuk memperoleh sarana produksi yang dibutuhkan, seperti pupuk serta masih kurang optimal peran lembaga-lembaga terkait dalam pengadaan sarana produksi. Sebagai daerah yang mempunyai banyak potensi, seperti bahan tambang timah dan perkebunan sawit, hal itu mengakibatkan banyak terjadi alih fungsi lahan menjadi tambang timah dan kelapa sawit. Minat petani menanam lada berkurang dikarenakan ketidakpastian harga di tingkat petani.

Itu semua merupakan persoalan di tingkat hulu. Menyinggung persoalan on farm, permasalahan budi daya lada masih berdasarkan pada kebiasaan dan turun temurun. Sebagian besar petani masih menggunakan tajar mati dan produktivitasnya masih rendah.

”Tanaman lada masih sering terserang hama dan penyakit lada seperti hama penggerek batang, pengisap buah dan bunga. Petani kesulitan mengantisipasi persoalan ini, dikarenakan harga pupuk anorganik masih tinggi,” jelasnya.

Sedangkan permasalahan di sektor hilir di antaranya, pengolahan lada masih tradisional seperti ketika merendam, merontokkan, mengupas, dan menjemur lada hasil panen. Selain itu masih perlu peningkatan standar dan sistem manajemen mutu di tingkat petani, belum ada diverensiasi produk serta pemasaran lada dengan bargaining power petani masih lemah.

”Permasalahan sistem agribisnis lada sektor penunjang, yakni perlunya meningkatkan peran penyuluh dalam membina petani, perlu meningkatkan peran lembaga keuangan dalam pembiayaan petani. Lembaga penelitian juga masih belum berperan dengan baik untuk menghasilkan bibit berkualitas,” paparnya. (Humas Pemprov Babel/555)