
Tri Mumpuni (jilbab merah) bersama tim di kebun hidroponik Omega
AGRONET - Membangun pertanian di kota memang perlu inovasi, ketelitian, dan perhitungan yang matang. Hidroponik adalah salah satu pilihan yang dapat dikembangkan, seperti yang dilakukan kebun hidroponik Omega di daerah Serpong Tangerang Selatan yang dapat berkembang karena didukung oleh anggotanya.
Tri Mumpuni, pengelola kebun hidroponik Omega yang beroperasi di daerah Serpong Tangerang Selatan bercerita kepada agronet.co.id bagaimana mengelola bisnis ini. Kebun hidroponik Omega berawal dari sebuah koperasi paguyuban para Alumni Jurusan Meteorologi dan Geofisika, Institut Teknologi Bandung (ITB).
Pertemuan yang makin kerap dari para alumni akhirnya melahirkan gagasan untuk membuat sebuah produk yang dapat bermanfaat bagi kehidupan masyarakat luas. Bidang pertanian kemudian yang menjadi pilihan mereka. ”’Tapi jangan yang kotor-kotor kata salah satu alumni’,” tutur Tri melalui telepon genggam. Akhirnya, diputuskan membuat kebun hidroponik.
Tidak mudah bagi para alumni Jurusan Meteorologi dan Geofisika ini memulai bisnis kebun hidroponik. Alasan yang paling mendasar adalah mereka tidak memiliki latar belakang pertanian. Lewat internet, mereka mulai mencari cara berkebun hidroponik. Beberapa di antara mereka mengikuti pelatihan berkebun hidroponik, agar dapat segera praktik.
Setelah mendapatkan lahan di kawasan Serpong Tangerang Selatan, mereka memulai bisnis ini. Di atas lahan seluas 621 meter persegi itu, dibangun 30 kompartemen. Tujuannya, agar dalam satu bulan dapat memanen satu kompartemen setiap harinya.
Satu kompartemen adalah satu blok instalasi hidroponik berbentuk huruf A yang berisi enam tingkat pipa paralon pada masing-masing sisinya. Setiap paralon dengan panjang enam meter diisi 36 lubang untuk netpot. Sehingga satu kompartemen memuat 432 lubang tanaman.
Hal lain, soal pembiayaan. Modal kerja dapat terkumpul dengan cara koperasi alumni membuka peluang investasi kepada para anggotanya. Dalam waktu tidak terlalu lama, modal untuk membangun 25 kompartemen telah berhasil dikumpulkan. Sedangkan 5 kompartemen lainnya, diambil alih oleh koperasi.
Penanaman perdana dimulai Oktober 2016, dengan menanam bayam, bayam merah, kangkung, dan sawi. Dua bulan kemudian, Desember 2016, masa panen tiba. Sesuai rencana, setiap hari koperasi memanen satu kompartemen dan pasca panen ditangani sesuai prosedur. ”Produk sayuran kami dijamin higienis,” tutur Tri dengan bangga. Selain itu, Tri menambahkan, bahwa sayuran hidroponik mempunyai banyak kelebihan, di antaranya; lebih bersih, tanpa pestisida, lebih renyah, dan lebih higienis.
Tantangan utama dalam menjalankan usaha tanaman dengan media tanam air ini adalah mencari pelanggan tetap. Saat ini kebun hidroponik Omega selain melayani pelanggan di sekitar lokasi kebunnya, juga memiliki pelanggan tetap di Jakarta, Bekasi, Cinere, Depok, Ciputat, dan Bandung. Namun, pemasaran hasil kebun yang dikelola oleh tiga orang tenaga lapangan ini masih jauh dari mencukupi, sehingga Tri kadang harus mengantar sendiri pesanan pelanggannya. Setiap hari kebunnya memanen 100 paket dengan berat per paket 250 gram.
Tri berharap pemerintah mulai memerhatikan pertanian hemat ruang ini. Suntikan dana sangat diperlukan untuk dapat memperluas usaha agar lebih bermanfaat buat anggota koperasi dan masyarakat sekitarnya. Menurut Tri, usaha sayuran higienis ini akan mencapai titik impas (BEP) dalam 18 bulan. (020)
Sabtu, 24 Januari 2026
Sabtu, 17 Januari 2026
Selasa, 13 Januari 2026
Sabtu, 24 Januari 2026
Kamis, 22 Januari 2026
Minggu, 18 Januari 2026
Kamis, 15 Januari 2026
Selasa, 13 Januari 2026
Jumat, 23 Januari 2026
Jumat, 23 Januari 2026
Rabu, 21 Januari 2026










